Zeolit
merupakan mineral yang biasanya bisa ditemukan di dalam batuan sedimen,
terutama kristal dari kelompok aluminium silikat. Zeolit memiliki kapasitas
tukar kation (KTK) yang lebih tinggi dibandingkan bentonite, zeolit jenis
klinoptilolit memiliki total KTK berkisar antara (1,5-2,0) meq/g sedangkan
untuk jenis bentonit total KTK berkisar (0,4-1,2) meq/g [35]. Zeolit terdiri
dari oksida rangkap Al2O3, Si2O, Fe2O3,
CaO dan MgO yang biasanya ditemui di batuan sedimen [36]. Zeolit tersusun atas
mineral kristal alumina silica tetrahidrat berpori dan terdiri dari tiga
struktur dimensi, terbentuk oleh [SiO4]+ dan [AlO4]5-
yang dihubungkan oleh atom-atom oksigen [37]. Zeolit mengandung kation alkali
atau alkali tanah dalam kerangka tiga dimensinya, dimana kation tersebut
tergantikan oleh kation-kation lain tanpa merusak struktur zeolit dan bersifat
mampu menyerap air secara reversible.
Molekul atau kation lain tersebut akan mampu bergerak bebas sehingga
memungkinkan zeolit dapat digunakan sebagai matrikss pendukung untuk
amobilisasi enzim [38].
Zeolit
memiliki sifat-sifat istimewa seperti selektif permukaan, penukar ion, pengayak
molekul, stabil terhadap panas dan mudah dimodifikasi sehingga banyak digunakan
dalam industri sebagai katalis, ion
exchange dan adsorben dalam pengolahan limbah [39]. Zeolit mudah mengalami
dehidrasi apabila dipanaskan, struktur kerangkanya akan menyusut namun kerangka
dasar zeolit tidak mengalami perubahan. Zeolit yang terhidrasi memiliki
struktur pro terbuka dengan internal
surface area besar yang membuatnya mampu mengadsorb molekul selain air
semakin tinggi [40]. Berikut adalah struktur dari kristal zeolit [37]:

Gambar 2.2 Struktur
Kristal Zeolit






0 komentar:
Posting Komentar