APAPUN ADA DI SINI

ABIEEZZZ TDUWWRRR QOUWWHH TYYUUUZZSSHH MNNDDDIIIEEEHH TDAKQ YUPA MNGGOZZSSSOOKKQQ GIEYGIEYH

SALJU

DAUN

kursor

RSS

Virtual Volunteering

    Virtual Volunteering merujuk kepada tugas-tugas para sukarelawan yang suda selesai. Namun dalam konteks ini, Virtual Volunteering merujuk kepada via internet dan komputer rumah atau kantor. Virtual Volunteering juga dapat dikatakan sebagai pelayanan dunia maya bagi para sukarelawan. Virtual Volunteering menyediakan akses yang luar biasa untuk penyediaan banyak jalan yang berguna dalam mendukung suatu kelompok, perwakilan non profit, sekolah, ataupun organisasi lainnya. Kemudian, timbul suatu pertanyaan bahwa mengapa harus menggunakan Virtual Volunteering. Banyak yang berpendapat mengenai hal tersebut. Intinya adalah akses internet lebih mempermudah suatu tugas daripada akses langsung. Terkadang, ada orang yang lebih menyukai berkomunikasi melalui media internet. Terlebih lagi, Virtual Volunteering menyediakan akses untuk mendukung lingkungan. Maksudnya adalah dengan akses internet sebagai komunikasi utamanya, gas-gas beracun seperti asap kendaraan tidak dimunginkan ada karena komunikasi dapat langsung dari komputer rumah atau kantor. Namun, tidak hanya itu, Virtual Volunteering juga mempermudah akses apabila salah seorang dari sukarelawan tidak dapat mobilisasi dengan normal atau disabilitas. Disamping itu, ternyata, orang yang berusia 20-30 tahunan menyukai komunikasi melalui media internet.


    Setelah itu, timbul suatu pertanyaan bahwa apa yang dapat dilakukan oleh seorang sukarelawan. Terdapat dua kategori tugas utama dalam sukarelawan. Kategori tersebut adalah Technical Assistance dan Direct Contact with Clients. Technical Assistance lebih merujuk kepada pekerjaan teknis dalam suatu organisasi. Misalnya adalah membuat logo, mencari informasi berkaitan dengan kepentingan internal kelompok, dan mengelola website. Dalam hal ini, email sangatlah penting untuk melaporkan perkembangan kerja. Sedangkan, Direct Contact with Clients lebih merujuk kepada komunikasi kepada client yang dimiliki oleh suatu kelompok. Misalnya adalah mengadakan komunikasi dengan klien, entah via email ataupun face to face. Tidak hanya klien saja, para sukarelawan lain pun akan dijalin komunikasinya oleh orang yang bertugas di dalam kategori Direct Contact With Clients.


    Setelah itu, penulis buku Virtual Volunteering mengharapkan bahwa bukunya dapat dimanfaatkan oleh orang yang benar-benar bisa mengelola website dan telah melakukan pertemuan face to face dengan sukarelawan lainnya, setidaknya mengerti tentang prinsip dasar mengenai sukarelawan dan telah mengetahui cara kerja sukarelawan dengan cara tradisional. Penting juga untuk selalu menyediakan akses internet dalam menjalankan aplikasi Virtual Volunteering.

    Tidak sembarang kelompok dapat siap menjalankan Virtual Volunteering, terdapat beberapa kriteria yang harus terpenuhi. Organisasi setidaknya sudah berhasil melakukan pengadaan sukarelawan dan kualitas yang dimiliki oleh para sukarelawan patut diperhitungkan seperti komitmen dan tanggung jawab dalam menjalankan kelompoknya ini. Hal tersebut dikarenakan suatu organisasi bagus bukan dari keuangannya. Namun, kualitas dan sistem yang ada di organisasi tersebut.

    Tidak semua organisasi dapat dikatakan berhasil dalam melakukan pengaturan sukarelawan.  Terdapat 13 elemen yang harus dipenuhi, apabila organisasi tersebut bisa untuk dikatakan sukses dalam pengaturan sukarelawan. 13 elemen tersebut adalah,
1. Planning and resource allocation
2. Volunteer work design
3. Recruitment/Public relations
4. Interviewing, screening, and matching
5. Orientation
6. Training
7. Volunteer/employee relations
8. Coordination
9. Supervision
10. Evaluation
11. Recognition
12. Recordkeeping and reporting
13.Volunteer input

Dalam Virtual Volunteering, terdapat derakat dalam Virtuality. Derajat-derajat tersebut terbagi ke dalam lima level. Level-level tersebut adalah,
1. Mendapatkan informasi dari internet
2. Berinteraksi dengan individu-individu secara online
3. Memasang informasi di internet
4. Mengintegrasikan cyberspace dengan tugas sukarelawan di dunia nyata
5. Virtual Volunteering

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Profil Pribadi

Profil Pribadi
Nama                                       : Dhanny Pratama Kusuma Jaya
NIM                                         145120407111048
Pekerjaan                                 : Mahasiswa
Tempat, tanggal lahir              : Jakarta, 12 Desember 1995
Alamat                                  : Perumahan Bekasi Griya Asri 2 Blok K2 No. 8 RT 02/39, Desa Sumber Jaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat, 17519
Alamat Domisili sekarang       : Jalan Kesumba No. 2 Lowokwaru, Jatimulyo, Kota Malang 65145
Status                                      : Belum menikah
Agama                                     : Islam
Makanan terfavorit                 : Subhanallah Wabihamdihii Subhanallah hil’adzim
Minuman terfavorit                 : minum air putih dengan adab Rasulullah SAW

Hobi                                        : mencari keridhaan Allah dan Rasul-Nya

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bagaimana Facebook Dapat Mengubah Dunia

Bagaimana Facebook Dapat Mengubah Dunia

Hal tersebut diawali dari Tunisia. Ada orang yang tidak suka dengan rezim yang ada saat itu. Rezim pada saat itu sangatlah absolut. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan masa kekuasaannya yang langgeng hingga 24 tahun. Pada awalnya, orang ini tidak ditanggapi serius oleh pemerintah. Namun, dia langsung bertindak nekat dengan membakar dirinya sendiri. Dia adalah Mouhammad Bouzisi. Dia adalah warga negara Tunisia yang menjadi korban penyelewengan kekuasaan pemerintah. Dia itu stres karena dia tidak mempunyai uang, kerja dan prospek yang jelas. Terlebih lagi, negara tidak dapat hadir dalam kejadian tersebut. Namun, setelah Mouhammad Bouzisi membakar diri, banyak warga Tunisia untuk ikut andil dalam revolusi di negaranya. Mereka semua ingin agar pemerintah yang berkuasa itu demisioner.
Perlu diketahui juga kalau Tunisia memiliki dua juta orang yang memiliki koneksi internet. Hal tersebut menyebabkan informasi yang awalnya hanya di Sudi Bouzia, tersebar luas ke warga Tunisia lain. Terlebih lagi, ibu kota Tunisi yakni, Tunis itu merasa damai dan tentram. Namun, Sudi Bouzan mengalami kericuhan yang amat sangat. Ada sekitar 69% warga Tunisia yang memakai handphone. Sedangkan, handphone itu sendiri semakin lama semakin bagus. Jadi, informasi tersebar secara masif. Dari situ, banyak aktivisi disekitar Tunisia. Namun, polisipun sudah menempatkan dirinya di suatu tempat strategi di sekeliling kota. Setiap ada bentrok antara polisi dengan warga, Ben Ali selalu memberikan kesempatan bagi para militernya untuk menembakan water cannon dan gas air mata. Hal tersebut membuahkan hasil. Walaupun, setidaknya, ada 150 orang meninggal dunia dalam protes tersebut. Lama kelamaan, Ben Alipun sadar dengan mengumumkan adanya kebebasan politik, demokrasi, dan pluralisme. Tidak lama kemudian, Ben Ali mengundurkan diri dari kursi presidennya. Protes teresebut berlangsung selama 28 hari.

Kejadian tersebut mengakibatkan negara-negara lain di Timur Tengah ingin memerdekakan dirinya dari rezim yang absolut. Mesir adalah negara yang terpengaruh selanjutnya. Mesir yang dipimpin oleh Hosni Mubarak terkenal dengan rezimnya yang absolut. Dengan melihat peristiwa di Tunisia, para aktivis revolusi menjalin komunikasi lewat internet pada awalnya. Mereka yakin bahwa Mesir dapat menjadi negara yang tidak dipimpin oleh rezim yang absolut lagi. Hal tersebut dibuktikan dengan ada salah seorang warga Mesir yang disiksa sampai mati karena melawan rezim Hosni Mubarak. Dia adalah Khalid Sayyid. Berita tersebut tersebar ke seluruh Mesir.  Terlebih lagi, para pejabat negara di Mesir terkenal suka melakukan korupsi. Masyrakat Mesirpun mulai geram. Asmaa Mahfoud merupakan tokoh yang pertama kali mendeklarasikan revolusi lewat akun facebooknya. Asmaa Mahfoud membuat banyak pergerakan di internet. Intinya adalah revolusi di Mesir. Ternyata, pengguna akun media sosial seperti facebook dan twitter di Mesir bisa mencapai 5 juta akun. Semuanya mendapatkan ajakan Asmaa Mahfoud. Ternyata, cara tersebut berhasil. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya demo besar-besaran yang dilakukan pada tanggal 25 Januari 2011. Ternyata, demo tersebut didukung oleh banyak orang dan organisasi seperti muslim brother youth Mesir. Karena demo semakin ricuh, polisipun menembakkan water cannon dan gas air mata. Peristiwa tersebut membuat Hosni Mubarak khawatir. Terlebih lagi, pihak Amerika Serikat masuk untuk menemui Hosni Mubarak. Hillary Clinton dan Obama adalah tokoh Amerika Serikat yang datang ke Mesir. HIllary Clinton datang ke Mesir bermaksud supaya diadakannya kebebasan penggunaan internet. Sedangkan, Obama membahas isu-isu yang lain. Namun, kedatangan Obama membawa pengaruh besar. Para aktivis yang awalnya hanya menjalin komunikasi di internet turun ke jalan. Banyak dari warga Mesir untuk menuntut haknya. Pada saat itu, demo tersebut sudah mencapai puncaknya. Hal tersebut membuat polisi menjadi marah dan mengeluarkan senapannya untuk menembak para demonstran yang anarkis. Dengan kejadian tersebut, Hosni Mubarakpun angkat bicara. Dia menyatakan bahwa dia ingin mempertahankan rezimnya. Demo tersebut sungguh sulit. Hal tersebut dikarenakan militer Mesir cukup kuat. Anggaran militernya saja dapat mencapai 3 juta dollar Amerika Serikat pertahun. Maka dari itu, banyak demonstran yang berdemo menggunakan unta. Dari peristiwa demo tersebut, banyak video yang dibuat dan diupload ke internet. Hal tersebut membuat banyak desakan masyarakat internasional yang ditujukkan kepada Hosni Mubarak. Terlebih lagi, Obama angkat bicara terhadap persoalan tersebut. Dari kejadian tersebut, Hosni Mubarakpun menyatakan pengunduran dirinya sebagai presiden. Hal tersebut membuat warga Mesir bahagia, bersyukur, dan bersujud sehingga banyak di perkotaan Mesir mengadakan pesta atas pengunduran diri Hosni Mubarak. Namun, peristiwa tersebut tidak berhenti. Informasi-informasi, video-video, pergerakan-pergerakan revolusi terus menyebar ke daratan Arab. Hal tersebut membuat warga di negara lain seperti Libya, Yaman, dan Suriah ingin melakukan hal yang sama.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Rencana Gerakan Sosial Global

Rencana Gerakan Sosial Global Yang Akan Dilakukan

Pencurian barang berharga begitu banyak ditemukan di Indonesia. Entah dalam perampasan, maupun dengan sembunyi-sembunyi. Tersangka selalu mmempunyai cara terbaik untuk mencuri. Terkadang, aparat negara masih belum mampu mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya dengan pencegahan dari diri sendiri. Banyak orang yang telah menggunakan alarm untuk menjaga barang berharganya. Namun, lagi-lagi, tersangka dapat mengatasinya. Pencurian banyak terjadi di daerah tas bawaan. Hal tersebut dikarenakan tersangka melihat bahwa tas berisi barang berharga seperti uang, perhiasan, handphone, dll. Teknologi sudah banyak diterapkan oleh aparat negara seperti halnya CCTV. Namun, cara tersebut masih kurang berhasil. Untuk itu, saya ingin membuat agar tas itu diidentifikasikan sebagai barang mahal, tetapi barang yang diharapkan itu tidak ada. Maka dari itu, saya mengusulkan agar setiap tas membawa barang bawaan dengan gantungan yang bertuliskan "Carbin Baggage" sambil mengosongkan isinya atau mengisi tas tersebut dengan sesuatu yang tidak diharapkan oleh pencuri. "Carbin Baggage" merupakan istilah yang digunakan dalam pesawat. Orang yang menaiki pesawat biasanya orang-orang yang kaya. Jadi, apabila pencuri telah berhasil mencuri tas kita. Maka, pencuri tidak akan dapat mendapatkan sesuatu yang diharapkan. Mungkin, pencuri tadi mengatakan di dalam hatinya, orang kaya saja isinya begini, bagaimana dengan orang yang biasa-biasa saja atau miskin. Dengan begitu, pencuripun akan merasa kapok terhadap kegiatannya tersebut.

Kegiatan tersebut dilaksanakan dari diri saya terlebih dahulu. Kemudian, saya akan memberitahu teman-teman disekitar saya untuk melakukan hal yang sama. Kemudian, saya akan menginformasikan ide saya ini ke media-media sosial yang saya punya seperti line, whatsup, facebook, twitter, instagram, path, dll.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

System Ekonomi Indonesia di Dunia Internasional



Untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester genap

Dosen Pengampu : Ajeng Wahyu Puspitasari, SE, MA


Karya :

Dhanny Pratama Kusuma Jaya (145120407111048)

Elfa Aulia Rahmah (145120407111051)

Grace Irene Putri (145120401111083)

Krisna Aditya Wicaksono (145120401111001)

Meutia Balgis (145120401111099)

 

PROGRAM S1 HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015

KATA PENGANTAR


Penulis adalah manusia biasa yang senantiasa memulai segala sesuatunya dengan mengucap syukur kehadirat Allah SWT dimana penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan kedamaian hakiki. Maksud dari kedamaian hakiki adalah penulis masih diberikan nikmat iman,   panjang umur, sel, jaringan, organ, system organ, senyuman, semangat untuk terus maju, dan nikmat-nikmat lain yang senantiasa bersinergisitas untuk beribadah kepada Allah SWT dengan mengerjakan makalah yang kami beri judul “Sistem Ekonomi Indonesia di Dunia Internasional”.

Tak lupa pula, penulis menuturkan shalawat serta salam kehadirat Baginda Rasulullah SAW beserta keluarga, sahabat, beserta tabi’in dan tabi’atnya dimana beliau merupakan manusia yang dapat mengubah dunia ini menjadi dunia yang lebih baik sehingga beliau dijuluki sebagai manusia paling berpengaruh sepanjang  sejarah.

Makalah ini berisi tentang system ekonomi Indonesia di dunia Internasional pada era orde lama, orde baru, dan reformasi. Ditambah lagi, penulis juga menulis  tentang pandangan system ekonomi klasik, Keynes, dan moneteris tentang system ekonomi Indonesia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada gading yang tak retak. Begitu juga , penulisan yang penulis tulis ini. Penulis mengharapkan sikap kritis dari para pembaca agar penulis  dapat istiqomah menjadi yang lebih baik.

Pada akhirnya, penulis hanya dapat bertawakal kepada Allah SWT atas segala penulisan makalah ini. Dan tidak lupa pula penulis menghaturkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penulisan makalah ini.

 

Malang, 08 Juni 2015

 

 

 

                                                                                                            Penulis

 


DAFTAR ISI























 

 



BAB I


PENDAHULUAN



   Kegiatan perekonomian sejatinya telah dikenal masyarakat dunia sejak era pertengahan dimana kegiatan ekonomi masih sebatas jalinan sosial melalui pertukaran barang. Dan berkembang pada era awal zaman modern, yang mana mulai berkembang istilah merkantilisme yang dilakukan oleh negara Spanyol, Portugal, Prancis, Inggris, dan Belanda guna kepentingan nasional mereka. Ilmu ekonomi dan kegiatan ekonomi sendiri mulai berkembang pesat pada masa Revolusi Industri yang diawali di Inggris. Revolusi Industri sendiri terjadi ketika semua usaha dikuasai penuh oleh para pemilik modal, pemegang saham terbesar adalah pemilik modal yang memaksakan pengusaha kecil menjual tanah ataupun menjadi buruh agar kehidupan mereka terjamin.[1]

   Pengertian ekonomi secara umum itu sendiri adalah, aktivitas atau kegiatan manusia dalam mengupayakan sumber daya alam, manusia, maupun tekhnologi yang terbatas dalam pemenuhan kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Menurut Abraham Maslow, ekonomi adalah bidang kajian yang mencoba menyelesaikan masalah kebutuhan manusia dengan mengkaji segala sumber ekonomi berdasarkan teori dan prinsip ekonomi.[2] Dewasa ini, segala kegiatan mustahil tidak bermotifkan ekonomi, hampir seluruh kegiatan didasarkan oleh ekonomi. Dalam menjalani kehidupan perekonomiannya, manusia juga memiliki tujuan dalam melakukan segala sesuatunya. Hal tersebut biasa disebut dengan motif ekonomi. Motif ekonomi terdiri dari lima motif yaitu,[3]

a.                    Motif Memenuhi Kebutuhan

Maksudnya adalah motif yang memiliki tujuan memenuhi kebutuhan hidup, baik kebutuhan pokok maupun bukan.

b.                    Motif Sosial

Maksudnya adalah motif yang memiliki tujuan untuk dapat saling membantu, dimana manusia adalah makhluk sosial.

c.                    Motif Mendapatkan Keuntungan

Maksudnya adalah motif yang memiliki tujuan untuk mendapat laba guna meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran.

d.                    Motif Mendapatkan Penghargaan

Maksudnya adalah motif yang memiliki tujuan untuk mendapatkan prestise atau dipandang orang/dihormati.

e.                    Motif Kekuasaan Ekonomi

Maksudnya adalah motif yang memiliki tujuanuntuk dapat menguasai pasar.

Ditambah lagi, Pada tahun 2014, pertumbuhan ekonomi di Negara kita, Indonesia,  mengalami kemerosotan yang cukup merugikan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2014 hanya 5,1% berbeda dengan tahun sebelumnya 5,8%. Pada tahun 2014, pemerintah menargetkan pertumbuhan sebesar 5,5%. Namun, dengan adanya pergantian pemimpin negara dengan berbagai kebijakan dan karakter kepemimpinan yang berbeda, Bank Indonesia memperkirakan pada tahun 2015 akan ada kenaikan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik.

   Kenaikan pertumbuhan ekonomi dipengaruhi kuat oleh konsumsi rumah tangga yang stabill dan cenderung meningkat. Selain itu, didukung oleh perluasan konsumsi dan investasi pemerintah bersamaan dengan pembangun infrastruktur. Industri petrokimia dan gas alam juga diperkirakan ikut menyumbang bertumbuhan ekonomi indonesia yang meningkat lebih baik.

   Dalam keoptimisan Bank Indonesia bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan meningkat, pada tahun 2015 pula di Indonesia terdapat jumlah pengangguran yang meningkat 300 ribu jiwa lebih banyak dibanding Februari tahun 2014. Hal ini di indikasi akibat melambatnya pertumbuhan ekonomi dan bertambahnya jumlah angkatan kerja serta perekonomian Indonesia yang berpedoman pada ekonomi dunia yang sedang tidak terlalu baik.

   Pada tahun 2015, Indonesia juga mengalami keterpurukan mata uang terhadap mata uang dolar. Bank Indonesia pada 14 Maret 2015 menyatakan bahwa nilai rupiah ditutup pada angka Rp. 13.191 per US Dollar. Hal ini adalah keterpurukan nilai rupiah terhadap dolar terparah dalam sejarah krisis ekonomi Indonesia. Bahkan pada krisis tahun 2008, Indonesia hanya mencapai angka Rp. 12.768. Namun, menariknya adalah pada tahun 2015, kondisi perekonomian Indonesia pada umumnya masih bisa dibilang cukup stabil berkat kebijakan yang dibuat pada masa pemerintahan SBY, yaitu kebijakan ‘penyelamatan ekonomi’.

Apabila penulis melihat ke belakang, dalam pemerintahan pada masa Orde Baru Indonesia sudah berperan aktif dalam perencanaan kebijakan pembangunan maupun dalam bentuk pemilihan dan penguasaan perusahaan-perusahaan negara (BUMN).[4] Pada dasarnya Politik Perekonomian nasional baik jangka pendek maupun jangka panjang merupakan upaya untuk melaksanakan perintah Undang-Undang Dasar 1945 yang terletak pada Pasal 33, 27 ayat 2 dan Pasal 34. Selanjutnya perekonomian dari masa Orde Baru hingga berjalannya waktu masih belum stabil dimana masih banyak masalah perekonomian yang terjadi di Indonesia.[5]

Masalah yang terjadi misalnya masih banyak kemiskinan di negara ini. Orang-orang kecil menginginkan keadilan dalam bidang ekonomi, dan tidak ingin pemerataan total dalam pembagian pendapatan nasional. Hanya saja rakyat kecil ini diperlakukan adil dalam kehidupan berekonomi. Keadilan disini didasarkan pada prinsip etik, ajaran Tuhan dan hukum sosial dalam bermasyarakat. Masyarakat hanya ingin hidup dalam suasana aman dan tentram semua kebutuhan-kebutuhan bisa terpenuhi serta kepentingan warga ddalam bermasyarakat bisa sejalan seimbang serasi dan selaras.

Tidak hanya masalah kemiskinan, pengangguran di Indonesia juga masih dipermasalahkan. Perekonomian rakyat Indonesia bergejolak tatkala orang yang sudah memiliki pekerjaan sekalipun belum jamin bahwa pekerjaan yang dijalani itu memberikan pendapatan yang layak bagi mereka. Selain itu masalah ketimpangan juga masih terjadi dimana pada awal pembangunan ekonomi justru mengalami peningkatan. Ketidakikutsertaan kelompok warga negara tertentu dalam kegiatan ekonomi dan pembangunan nasional, sedangkan di pihak lain ada kelompok-kelompok tertentu menjadi sangat sibuk dengan kegiatan ekonomi dengan renumerasi yang sangat tinggi yang menyebabkan adanya ketimpangan masyarakat tersebut.[6]

   Disebutkan bahwa optimalisasi sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya lainnya adalah langkah efektif sebagai upaya peningkatan perekonomian. Dimana hal tersebut membantu program sosial yang menargetkan berkurangnya angka kemiskinan dan pengangguran dengan menginvestasikannya pada sumber daya manusia khususnya. Maka, dapat diindikasi bahwa investasi swasta akan mudah masuk dengan pengurangan hambatan ekonomi.

   Penghambat masuknya investor dan pelambatan pertumbuhan ekonomi sendiri dapat terjadi akibat masih lemahnya perdagangan dunia, adanya gejolak finansial bersamaan dengan kenaikan tingkat suku bunga, harga minyak rendah yang mampu menggoyahkan keseimbangan perekonomian pada negara-negara penghasil minyak, dan resiko terjadinya deflasi di kawasan Eropa ataupun Jepang dengan jangka waktu yang lama.

Oleh karena itu, penulis tertarik menulis tentang analisa dari system ekonomi Indonesia di dunia internasional pada masa orde lama, orde baru, reformasi. Dan juga, penulis tertarik menulis tentang system ekonomi Indonesia menurut pandangan klasik, Keynesian, dan moneteris.


Adapun rumusan pada makalah ini adalah

1.               Bagaimana system ekonomi Indonesia di dunia Internasional pada masa orde lama, orde baru, dan reformasi?

2.               Bagaimana system ekonomi Indonesia di dunia internasional menurut pandangan system ekonomi klasik, Keynes, dan moneteris?

 


Adapun tujuan dalam makalah ini adalah

1.               Menganalisa keterkaitan antara system ekonomi Indonesia sekarang di dunia internasional dengan system ekonomi Indonesis pada masa orde lama, orde baru, dan reformasi

2.               Menganalisa keterkaitan antara system ekonomi Indonesia sekarang di dunia Internasional dengan system ekonomi klasik, Keynes, dan moneter.


 

 

BAB II


PEMBAHASAN


2.                    1. System ekonomi Indonesia di dunia Internasional pada masa orde lama, orde baru, dan reformasi.


   Sistem ekonomi Indonesia memiliki dasar hukum yakni terletak pada pasal 33 UUD 1945. Indonesia tidak menganut sistem ekonomi Liberal atau Kapitalis karena sistem ekonomi Indonesia berkembang pada diri pemimpin pergerakan kebangsaan dimana liberalisme sendiri merupakan praktek dari Belanda yang tidak membawa kemerdekaan, persamaan, dan persaudaraan. Namun dalam prakteknya, politik perekonomian Indonesia merdeka selama 43 tahun tidak mudah. Apa yang sudah dicita-citakan para pemimpin Indonesia terkait dengan peerekonomian Indonesia tidak mudah untuk diwujudkan.

   Perekonomian dunia juga sedang mengalami kejatuhan yang menyulitkan sistem. Namun, menurut Global Economic Prospect pada tahun 2015 negara-negara berkembang akan mulai meningkat pertumbuhan ekonominya. Hal ini dikarenakan harga minyak yang rendah, menguatnya perekonomian di negara Amerika, suku bunga dunia yang rendah serta berkurangnya tekanan atau tuntutan domestik dari tiap negara-negara berkembang. Perkiraan peningkatan pertumbuhan ekonomi tahun 2015 adalah 3% dibanding tahun 2014 dan akan dapat meningkat lagi pada tahun 2016 dan 2017.

2.     1. 1.  System ekonomi Indonesia di dunia Internasional pada masa orde lama


 

Masa Orde Lama masa dimana berada pada kisaran tahun antara 1945-1965. Pada tahun tersebut merupakan tahun dimana terjadi gejolak tidak hanya di bidang politik tetapi juga perekonomian Indonesia. Dengan kurun waktu tersebut ilmu ekonomi tidak hanya sebagai ekonomika politik melainkan juga sebagai sejarah perekonomian Indonesia yang terjadi secara nyata dan kronologis. Oleh sebab itu, terdapat tiga periode selama Orde Lama yakni periode 1945-1950, Periode Demokrasi Parlementer (1950-1959) dan Periode Demokrasi Terpimpin (1959-1965).

Periode Demokrasi Parlementer atau yang biasa disebut dengan Periode Demokrasi Liberal berakhir pada tanggal 5 Juli 1959. Pada saat itu Presiden Soekarno telah menerbitkan dekrit bahwasannya Indonesia kembali pada UUD 1945. Oleh sebab itu, politik Indonesia berada pada Demokrasi Terpimpin. Periode Demokrasi Terpimpin atau yang biasa disebut dengan Periode Orde Lama dimana berada pada kisaran tahun 1945-1965. Pada tahun tersebeut, politik di Indonesia masih bergejolak dan belum stabil. Pada saat itu pula perekonomian Indonesia menjadi terkesampingkan dan tidak diperhatikan. Terjadi pergantian kabinet dan pemerintahan jatuh bangun menyikapi perekonomian yang bergejolak tersebut. Terdapat delapan kabinet yang terbentuk pada tahun 1949 hingga 1959. [7] Delapan kabinet tersebut yakni :

2. 1. 1. Kabinet Hatta, Desember 1949 – September 1950

Kabinet Hatta menjadi kabinet yang bersejarah dalam perpolitikan Indonesia karena dipimpin oleh seseorang yang pakar ekonomi profesional. Meskipun pada tahun tersebut focus utama kabiet ini adalah menyatukan politisi yang berada pada wilayah Indonesia ke dalam negara republic Indonesia Serikat, akan tetapi juga memperhatikan masalah ekonomi yang cukup besar. Tindakan yang dilakukan oleh kabinet adalah melakukan devaluasi mata uang secara serempak dan pemotongan uang yang beredar atau yang biasa disebut dengan reformasi moneter yang terjadi pada bulan Maret 1950. Pemotongan menjadi separuh atas semua uang kertas keluaran De Javasche Bank dengan nilai nominal lebih dari 2,50 gulden Indonesia dan pengurangan separoh dari seluruh deposito bank dengan nilai di atas 400 gulden Indonesia. Oleh sebab itu, untuk ganti rugi kepada pemegang deposito diberikan obligasi jangka panjang pemerintah.

1. 1. 2.  Kabinet Natsir, September 1950 – Maret 1951

Kabinet Natsir adalah kabinet pertama yang terbentuk pada masa negara kesatuan Republik Indonesia. Pada kabinet ini ditunjuklah Sjafruddin Prawira menjadi Menteri Keuangan dan Sumitro Djojobadikusumo sebagai Menteri Perdagangan dan Industri. Pada saat itu Natsir dan kawan-kawan menjadikan situasi perang korea menjadi hal yang bermanfaat untuk keperluan pembangunan. Untuk mengatasi kesulitan neraca pembangunan, ekspor disini didorong sehingga dapat menaikkan penerimaan pemerintah. Sedangkan untuk menekan tingkat harga-harga umum dalam negeri, impor diliberalisasikan. Begitu pula dengan kredit bagi perusaaan asing akan diperketat sedangkan bagi perusahaan pribumi akan dipermudah. Surplus anggaran yang cukup besar pada tahun 1951 terjadi ketika ada kombinasi kebijakan fiskal yang ketat dengan penerimaan yang tinggi.

Kemudian terbentuklah perencanaan pembangunan yakni Rencana Urgensi Perekonomian (RUP) dimana perencanaan ini terbentuk ketika beberapa minggu Kabinet Natsit berakhir dan terjadi pro dan kontra. Hal ini menyebabkan Kabinet Natsir tidak sempat melaksanakan RUP tersebut. Kemudian kebinet selanjutnya melaksanakan perencanaan dengan nama baru yakni Rencana Lima Tahun.

2. 1. 1. 3. Kabinet Sukiman, April 1951 – Februari 1952

Pada masa pemerintah Sukiman terdaspat nasionalisasi De Javasche Bank yang menjadi Bank Indonesia pada 22 Mei 1951 dan memburuknya situasi fiskal dimana ini menjadi catatan penting sejarah perekonomian Indonesia. Setelah berlalunya bom Korea ekspor menjadi menurun. Tidak hanya itu sistem kurs berganda dihapuskan atas saran Hjaimar Schacht sebagai penasehat ekonomi dan telah menjebak perekonomian pada tahhun 1950. Defisit besar terjadi pada masa sukiman dimana sebelumnya menjadi surplus anggaran pada masa Kabinet Natsir. Kabinet Sukiman berhenti pada Februari 1952 dinama terdapat isu penandatanganan Persetujuan Keamanan Bersama dengan Amerika Serikat.

2.     1. 1. 4. Kabinet Wilopo, 1952 – Juni 1953

Kabinet wilopo lebih menekankan pada konsep Anggaran Berimbang dalam APBN. Impor diperketat dan melakukan pembayaran di muka. Kegiatan ekonomi yang diterapkan adalah rasionalisasi yang merupakan modernisasi dang pengurangan personil angkatan bersenjata. Pada kabinet ini titik keberhasilannya adalah mampu menekan pengeluaran pemerintah. Mampu menekan lebih dari 25 persen pengeluaran total sebelumnya namun cadangan devisa merosot tajam. Kabinet ini masih meneruskan RUP dan juga Program Benteng dimana untuk membatasi alokasi impor hanya untuk pengusaha-pengusaha nasional bertujuan membentuk kelas menengah nasional. Akan tetapi Program Benteng ini dianggap bersifat diskriminasi-rasial dimana bisa merugikan golongan pengusaha yang importer non pribumi.

2.     1. 1. 5. Kabinet Ali I, Agustus – Juli 1955

Pada masa kabinet Ali Sastroamidjojo perekonomian Indonesia diwarnai dengan deficit baik dalam anggaran belanja maupun dalamm neraca pembayaran. Iskaq Tjokroadisuro selaku Menteri Urusan Perekonomian mampu melindungi importer pribumi dengan tujuan untuk mengubah perekonomian dari segi struktur colonial menjadi nasional. Hal ini mempu mengubah struktur distribusi devisa secara drastis dengan cara membagikan lisensi impor kepada orang-orang pribumi sehingga importer benteng membengkak sangat besar dari 700 importer menjadi 4300 importer.

Namun hal ini menyebabkan kegagalan fiskal yang bersifat katastropik yang menjadi kecaman keras bagi Ali. Oleh sebab itu Ali mengganti anggota kabinetnya termasuk Iskaq Tjokroadisuro diganti oleh Rooseno Surjohadikusumo. Karena kegoncangan yang terjadi, imporpun dibatasi sebagai tindakan restabilisasi, namun upaya pengendalian laju uang menjadi kurang berhasil.

2.     1. 1. 6. Kabinet Bahannuddin, Agustus 1955 – Maret 1956

Kabinet yang dipimpin oleh Bahannuddin Harahap selaku ketua partai yang ditunjuk oleh Hatta menunjuk Sumitro Djojohadikusumo menjadi Menter Keuangan. Kabinet ini biasa disebut dengan Kabinet Interim lebih menekankan pada liberalisasi impor dimana politik realisme terhadap importer dihapuskan. Tindakan yang dilakukan adalah menekan laju uang yang  beredar berkurang sekitar 5 persen. Harga barang-barang eks impor naik hampir 3 persen dan merosot sekitar 15 persen. Nilai rupiah terhadap uang juga sempat naik 8 persen.

Pada kabinet ini dirasa berhasil dimana mampu konsisten dalam menjalankan RUP. Selain itu pembangunan ekonomi juga berhasil berkat perluasan pembentukan modal hasil dari penyempurnaan Program Benteng dengan membentuk Dewan Alat-alat Pembayaran Luar Negeri. Dengan pembangunan ini modal asing masih bisa diterapkan sehingga terdapat bantuan yang besar kepada pengusaha-pengusaha pribumi. Kabinet ini dianggap berhasil ketika mampu memutuskan secara seepihak dengan membatalkan Persetujuan Konferensi Meja Bundar yang mana berusaha mengekalkan sistem ekonomi colonial dalam perekonomian. Sukses dalam hal ini tidak dilakukan sendiri melainkan bekerjasama erat dengan jajaran pimpinan angkatan Darat.

2.     1. 1. 7. Kabinet Ali II, April 1956 – Maret 1957

Kabinet pertama yang menentukan hasil pemilihan umum pertama yakni Ali Sastroamidjoko menjabat kembali meskipun pada sebelumnya nyaris tidak sempat memperbaiki perekonomian Indonesia. Pada kabinet Ali yang kedua ini Program Benteng kembali dimunculkan dengan kensep Rencana Lima Tahun ini dirancang dan dirumuskan kembali pada bulan Mei 1956 dan disetujui pada bulan September 1956. RLT lebih terinci, eksplisit dan teknis-operasional dengan tujuan untuk mendorong industri dasar jasa-jasa pelayanan umum dan sektor publik.

2.     1. 1. 8. Kabinet Djuanda, Maret 1957 – Agustus 1959

Kabinet ini dipimpin oleh Djuanda Kartawidjaja dimana sebelumnya telah menjadi Menteri Perencanaan di Kabinet Ali. Kabinet ini dibentuk tidak berdasarkan pertimbangan politisi kepartaian sehingga disebut dengan Kabinet Karya. Pada masa pemerintahan kabinet ini, perekonomian bersifat terpimpin. Kabinet ini memunculkan instrument ekspor berupa Bukti Ekspor (BE) yang sebelumnya adalah Sertifikat Pendorong Ekspor (SPE). Kabinet ini tidak banyak melakukan hal untuk pembanguna ekonomi meskipun sudah diwariskan RLT oleh Kabinet Ali dan sudak ada pelaksanaan Musyawarah Nasional Perencanaan. Hal ini disebabkan situasi lebih menuntut perhatian pada pengembalian wilayah Irian Barat.

Selain itu politik juga bergejolak sehingga menyabakban memicu inflasi, mengganggu penanaman modal, produksi dan distribusi. Tidak hanya itu pada tahun 1958 pendapatan nasional riil merosot labih kurang 13 persen. Dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan ini menjadi tersendat manakala telah dilakukannya reorganisasi politis pada bulan Juli 1959. Kemudian Presiden Soekarno yang skalugus menjadi Perdana Menteri membentuk badan perencanaan yang bernama Dewan Perancang Nasional yang mengarah pada ideologis-politis daripada ekonomi-teknis. Pada tahun 1960 ditetapkannya lagi rumusan baru yakni Rencana Pembangunan Semesta Delapan tahun.

Pada masa Orde Lama ini perekonomian berkembang kurang baik dan bisa dikatakan masih labil. Ketidakstabilan ini seperti yang sudah diuraikan sebelumnya menyebabkan pegantian kabinet dari Kabinet Hatta hingga Kabinet Djuanda. Namun pertumbuhan ekonomi selama masa Orde baru tidak semuanya menghasilkan kekecewaan bisa dilihat laju pertumbuhan ekonomi yang sebelumnya pada tahun 1052-1958 6,9 % turun menjadi 1,9 % pada tahun 1960-1965. Namun defisit anggaran masih terus meningkat dari tahun ke tahun dimana defisit anggaran tersebut dibiayai dengan percetakan uang baru.[8] Selain itu pada tahun 1955 secara agresif harga mengalami kenaikan, bisa dilihat dari laju inflasi yang nail 33 %. Pada tahun 1958 besaran mencapai angka 40 % dengan laju inflasi rata-rata 223,5 %. Laju inflasi terus meningkat pada tahun 1961 – 1960 hingga mencapai 650 % pada akhir masa Orde Lama. [9]

Sistem ekonomi Indonesia pada masa Orde Lama yang merujuk pada sistem Ekonomi Terpimpin masih ada pengaruh-pengaruh negatif terhadap kebijakan inflasi yang tidak diperhatikan sehingga menyebabkan inflasi membengkak pada tahu 1966. Selain itu juga dapat menurunkan taraf hidup pada tahun 1962 dan 1963 melalui pengontrolan harga, namun pada tahun 1963-1966 biaya hidup sudah mengalami peningkatan yang hebat.[10]

Tidak hanya itu, pada masa Demokrasi Terpimpin kebijakan ekonominya dikuasai oleh para politisi yang condong pada kepentingan masing-masing. Hal ini menyebabkan perisahaan-perusahaan peribumi yang tidak efisien diberi perlindungan hanya untuk ideologi semata dimana perusahaan peribumi harus memiliki peran dalam perekonomian negara. Oleh sebab itu dengan adanya tekanan dari politik untuk ekonomi, menyebabkan Rancangan Pembanguna Delapan Tahun menjadi terbengkalai. Melihat hal itu tidak ada pembentukan kebijakan yang bersifat kombinasi optimal yang diusahakan dan tidak bisa menyeimbangkan antara pembangunan ekonomi dan perbaikan kondisi politik di negara.

Pada era Orde Lama, orientasi pembangunan ekonomi di Indonesia cenderung berbentuk orientasi ke dalam. Dalam kepemimpinannya, Soekarno tidak begitu mengutamakan aspek ekonomi dalam pembangunan Indonesia, melainkan lebih menekankan pertumbuhan nasionalisme bangsa melalui adanya pembinaan persatuan kebangsaan dan watak bangsa. Oleh karena itu, istilah ‘politik sebagai panglima’ seringkali terdengar pada masa pemerintahannya. Orientasi pembangunan ekonomi di Indonesia pada Orde Lama cenderung ke dalam karena pemerintahan era Soekarno terkenal dengan pemerintahan anti-bantuan asing dan juga adanya kampanye ‘Ganyang Malaysia’ yang membuat investor asing enggan masuk ke ranah perekonomian Indonesia. Kemandirian Indonesia dalam aspek ekonomi pada era Orde Lama tidak sertamerta membawa keuntungan bagi Indonesia. Pasalnya, pada akhir pemerintahan Soekarno, Indonesia mengalami keterpurukan dengan adanya inflasi tinggi, defisit neraca pembayaran, habisnya cadangan devisa, serta kesulitan pembayaran hutang luar negeri.

Namun, jangan  lupa  bahwa  pada  akhir  Orde Lama utang kita hanya 2,5 milyar dolar,  angkatan  bersenjata  kita  paling tangguh  di  Asia  Tenggara,  dan  kita saat  itu  mampu  merebut  Irian  Jaya. Kemudian, pada masa Orde Lama, hutan kita masih hijau, sementara ketika Orde Baru selesai kekuasannya,  luas  hutan  kita  tinggal sepertiga. Jika kita nominalkan, maka angka penggundulan hutan bisa mencapai 100 milyar dolar. Pada masa Orde Lama, tambang  dan  lain-lain  masih ada di dalam bumi, tetapi pada akhir Orde Baru sudah banyak dieksploitasi, dan itu paling tidak sekitar 150 milyar dolar.

2. 1. 2. System ekonomi Indonesia di dunia Internasional pada masa Orde Baru


Pada era orde baru, dalam menghadapi rentetan krisis yang tengah melanda Indonesia pemerintah RI mencoba mengambil beberapa langkah, dengan mengambil garis besar yang terbagi menjadi empat jenis tindakan, yaitu : Stabilisasi moneter, pengeratan likuiditas, tindakan penghematan, dan penyesuaian struktural yang melewati liberalisasi perdagangan dan juga investasi.

Pada awal juli tahun 1997 pemerintah mulai mengadakan pembatasan kredit bagi sektor properti ( kredit penyediaan dan pengolahan tanah ) yang dinilai pemerintah terlalu ekspansif. ketika terjadi melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS, BI juga mencoba mempengaruhi harga uang di pasar dengan menjual senilai US $ 500 juta lalu melebarkan ambang batas investasi kurs, namun ternyata langkah yang diterapkan oleh BI malah semakin memperparah dan memperburuk keadaan nilai rupiah.[11]

Sistem ekonomi Indonesia pada masa orde baru setelah adanya campur tangan dari IMF klimaks dari upaya pengendalian krisis moneter kali ini adalah pemerintah Indonesia mengeluarkan program paket pemulihan ekonomi yang merupakan hasil dari kesepakatan antara pemerintah orde baru dan IMF.

Tabel Program Paket Pemulihan Ekonomi

o Penyehatan Sektor Keuangan
Perbankan : Swasta, Pemerintah dan Bank Pembangunan Daerah.
Lembaga pembiayaan.
Asuransi dan dana pensiun.
Lembaga – lembaga di pasar modal.
o Kebijakan Fiskal
Meningkatkan penerimaan negara dan berbagai penghematan, diikuti peningkatan disiplin anggaran sehingga minimal tidak terjadi defisit anggaran belanja. Tahun 1998 / 1999, targetnya surplus anggaran 1 persen dari PDB.
 
Mengurangi defisit transaksi berjalan pada neraca pembayaran sehingga dalam dua tahun ke depan dapat ditekan dibawah 3 persen terhadap PDB.
o Kebijakan Moneter, termasuk kurs mata uang
Pengendalian inflasi melalui pengendalian likuiditas perekonomian dan tingkat suku bunga, pada satu pihak tetap merangsang kegiatan perekonomian, sekaligus menghasilkan stabilitas ekonomi.
o Penyesuaian Struktural
Penurunan bertahap tarif bea masuk produk kimia, besi / baja dan produk perikanan.
 
Pelonggaran tata niaga komoditas gandum, tepung terigu, kedelai, dan bawang putih. HPS semen dihapuskan.
 
Hambatan ekspor termasuk pajak ekspor akan dikurangi secara bertahap.
 
Tarif khusus kepada produsen kendaraan bermotor yang menggunakan komponen lokal tinggi akan dihilangkan tahun 2000,  berkaitan dengan mobnas ( Mobil Nasional ), pemerintah setuju melaksanakan keputusan WTO.
 
Pemerintah akan mengkaji ulang investasi dan pengeluaran sektor publik termasuk pengeluaran pemerintah untuk BUMN dan industri strategis. Privatisasi akan terus dilanjutkan termasuk bank – bank pemerintah setelah penggabungan selesai.
 


Didalam praktiknya yang terlihat nyata dilakukan oleh pemerintah Soeharto adalah mengambil dua tindakan, yaitu :

1.                    Mencabut izin usaha 16 bank umum yang mengakibatkan bank – bank itu harus dilikuidasi pada 1 november 1997.

2.                    Mengeluarkan paket deregulasi pada 3 november 1997. 

Tabel Paket Deregulasi 3 November 1997

PENGHAPUSAN TATA NIAGA
o Pembebasan impor kedelai, bawang putih, dan terigu dari Bulog kepada Importir Umum ( IU ). Hambatan nontarif diganti tarif bea masuk, sebesar 20 % ( bawang putih dan kedelai ), dan 10 % ( tepung terigu ). Fungsi Bulog dipertahankan untuk komoditas beras dan gula.
o Dihapuskan HPS semen.
FASILITAS EKSPOR
o Penambahan kelompok / jenis komoditi cakupan Perusahaan Eksportir Tertentu ( PET ). Komoditas yang memperoleh PET semula 10, ditambah menjadi 18 kelompok.
o Standar konversi penggunaan bahan baku / penolong.
o Penurunan tarif bea masuk untuk berbagai komoditas : ikan tertentu, bahan kimia tertentu dan baja.
o Penghapusan PPh atas impor emas batangan.
o Pengenaan PPh 0 % untuk Ekspor Tidak Langsung.
o Pemberian kelonggaran pengeluaran komponen hasil olahan dari Pengusaha di Kawasan Berikat ( PDKB ) ke Daerah Pabean Indonesia Lainnya ( DPIL ).
PENYEDERHANAAN PERIZINAN DAN PROSEDUR IMPOR
o Karantina bahan baku kulit : yang wajib dikarantina hanya kulit diawetkan, Wat pickle, Wat kue, crust, dan kulit jadi bebas karantina.
o Kawasan Berikat : pemberian izin bagi investor mendirikan pergudangan atau penimbunan.
PERBAIKAN IKLIM USAHA BAGI INVESTASI ASING
o Diizinkannya PMA mendistribusikan produknya sendiri.
o Perwakilan dagang asing diizinkan buka kantor di ibukota provinsi.
o Mulai tahun 2003 bahkan mengecerkan ke konsumen.
o Fasilitas pembebasan bea masuk untuk mesin, bahan baku / penolong untuk pembangunan dan pengembangan industri / industri jasa.

 

Dari ringkasan paket November 1997 nampak pemerintah Soeharto melakukan beberapa langkah reformasi yang polanya mirip dengan yang dilakukan pada masa pertengahan 1980 – an yang pada saat itu tengah dilanda krisis minyak. Hanya saja tindakan yang diambil pemerintah Soeharto kali ini terlihat merambah lebih jauh daripada di masa lalu.

Tindakan yang diambil pemerintah Soeharto mencakup “ Pengencangan Ikat Pinggang “ dengan merevisi berbagai proyek, tetapi juga mereformasi tata niaga, seperti mengurangi monopoli Bulog untuk terigu dan kedelai serta bawang putih. Demikian juga untuk semen, yang tadinya telah diatur dengan Harga Patokan Setempat ( HPS ), kini dilepas menurut ekonomi pasar dan perusahaan – perusahaan dagang asing mulai diizinkan untuk mendistribusikan barangnya ke pasar domestik.

Paket 3 November 1997 diatas sudah menjelaskan dengan menunjukkan kelebihannya karena “ berhasil “ memasukkan beberapa sektor yang sensitif , seperti soal monopoli Bulog dan HPS semen. Namun, belum dapat dikatakan sebagai reformasi yang tuntas benar karena adanya beberapa resistensi yang masih bercokol. Beberapa kasus yang relevan di pembahasan ini, antara lain :

o Paket itu belum berhasil “ menghentikan “ proyek mobil nasional, kecuali ada pernyataan bahwa pemerintah akan “ mengikuti keputusan WTO “.

o Dalam liberalisasi tata niaga tepung terigu diikuti dengan peraturan yang tetap memberikan Bulog hak monopoli untuk mendistribusikan tepung terigu, dalam 3 – 5 tahun yang disebut masa transisi. Hak monopoli beberapa komoditas, terutama gula dan beras, tetap dipertahankan.

o Paket itu menyentuh masalah tata niaga cengkeh, ini berarti tetap mempertahankan kehadiran BPPC ( Badan Penyangga Pemasaran Cengkeh ).

o Paket itu belum menyentuh reformasi BUMN strategis yang dikelola BPIS, khususnya industri pesawat terbang, IPTN, yang selama ini dikenal sebagai sektor yang memboroskan uang negara dan merusak mekanisme pasar karena diproteksi [13].

o Kondisi pembangunan ekonomi Indonesia sejak Pelita I yang dimulai pada akhir tahun 1970 – an hingga krisis ekonomi yang terjadi pada akhir tahun 1997 / awal tahun 1998, kondisi tersebut dapat dikatakan bahwa Indonesia telah mengalami suatu proses pembangunan ekonomi yang sangat bagus, paling tidak pada tingkat ekonomi makronya. Keberhasilan ini dapat diukur dengan sejumlah indikator ekonomi makro, dua diantara yang umum digunakan pada tingkat PN per kapita dan laju pertumbuhan PDB per tahun. Pada tahun 1968 pendapatan per kapita Indonesia masih sangat rendah yaitu hanya sekitar US $ 60, sejak Pelita I telah dimulai PN Indonesia per kapita telah mengalami peningkatan yang relatif tinggi hampir setiap tahunnya dan pada akhir tahun 1980 – an hampir telah mendekati US $ 500, hal ini disebabkan pada pertumbuhan PDB rata – rata per tahun juga tinggi antara 7 – 8 persen selama tahun 1970 – an.

Pada dekade 1970 – an hingga 1980 – an, proses pembangunan ekonomi Indonesia mengalami banyak shocks yang cukup serius yang paling utama dari faktor – faktor eksternal seperti merosotnya harga minyak mentah di pasar internasional menjelang pertengahan tahun 1980 – an dan resesi ekonomi dunia pada dekade yang sama, pada masa Orde Baru pemerintahannya menganut sistem ekonomi terbuka. Perekonomian nasional pada masa pemerintahan Orde Baru masih bergantung pada pemasukan dolar Amerika serikat dan hasil – hasil ekspor komoditi primer, khususnya minyak dan hasil – hasil pertanian. Pada tingkat ini ketergantungan yang tinggi membuat perekonomian nasional tidak bisa menghindar dan mengalami pengaruh negatif dari ketidakstabilan harga dari komoditi – komoditi di pasar internasional.[14]

Sejak periode 1990 – an sampai masa krisis yang terjadi dengan diawali oleh krisis rupiah pada pertengahan 1997, perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang begitu pesat selama periode 1993 -1995, rata – rata pertumbuhan ekonomi Indonesia per tahun mengalami kenaikan antar 7,3 – 8,2 persen yang membuat Indonesia termasuk negara di ASEAN yang pertumbuhannya tinggi. Dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tinggi ini rata – rata PN per kapita Indonesia mengalami kenaikan yang cukup pesat pada setiap tahunnya, pada tahun 1993 dalam dolar AS sedah melewati angka 800 tetapi akibat adanya krisis PN per kapita Indonesia mengalami penurunan yang cukup drastis yang awalnya US $ 800 menjadi US $ 640 pada tahun 1998 dan pada tahun 1999 juga mengalami penurunan yang cukup drastis menjadi US $ 580.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada saat itu membuat Indonesia membuat Indonesian miracle selama pemerintahan Soeharto menjadi tidak berarti apa – apa. Sektor keuangan / perbankan pada masa Orde Baru berkembang dengan pesatnya dan adanya krisis ekonomi pada tahun 1997 / 1998 membuat sektor keuangan atau perbankan menjadi hancur terutama karena kredit macet antarbank. Sektor industri manufaktur dan sektor konstruksi juga mengalami penurunan produksi yang cukup signifikan, hampir semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan yang negatif. Pertumbuhan ekonomi yang positif selama tahun 1998 hanya pada sektor pertanian dengan pertumbuhan sebesar 1,31 persen, sektor listrik, air bersih, dan gas dengan pertumbuhan sebesar 3,11 persen, dan sektor pengangkutan dan komunikasi mengalami pertumbuhan sebesar 16,23 persen. Sektor pertanian mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif dikarenakan adanya dukungan subsektor perkebunan, kehutanan, dan perikanan yang produksinya terus mengalami peningkatan. Jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada masa itu dikarenakan membuat harga komoditas – komoditas pertanian dalam dolar AS menjadi lebih murah, yang membuat price competitiveness yang membuat sektor pertanian meningkat.[15]

2.     1. 3. System ekonomi Indonesia pada masa reformasi

Tanggal 10 Maret 1998, indonesia menyepakati sistem ekonominya yaitu sistem ekonomi pancasila. Sistem ekonomi ini dianggap sebagai sistem ekonomi yang paling cocok bagi indonesia. Sistem ekonomi pancasila disepakati sebagai sistem ekonomi indonesia berdasarkan persetujuan MPR-RI terhadap TAP tentang GBHN 1998-2003, di dalamnya sistem ekonomi ini dijelaskan memiliki 7 pokok yaitu :[16]

1.                    Terciptanya ketahanan nasional yang kukuh dan tangguh

2.                    Mengandung sikap dan tekad kemandirian dalam diri manusia; keluarga dan masyarakat indonesia

3.                    Perekonomian nasional dikembangkan ke arah perekonomian yang berkeadilan dan berdaya saing tinggi

4.                    Demokrasi ekonomi diwujudkan untuk memperkukuh struktur usaha nasional

5.                    Koperasi adalah sakaguru perekonomian nasional, sebagai gerakan dan wadah ekonomi rakyat; koperasi sebagai badan usaha ditujukan pada penguatan dan perkuatan basis usaha

6.                    Kemitraan usaha yang dijiwai semangat kebersamaan dan kekeluargaan yang saling menguntungkan

7.                    Usaha nasional dikembangkan sebagai usaha bersama bertdasar asas kekeluargaan dalam pasar terkelola, dan dikendalikan oleh keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, serta nasionalisme yang tinggi

Menurut Mubyarto sejak dilaksanakannya penelenggaraan otonomi daerah pada Januari 2001, terjadi permasalahan keuangan antara pusat, provinsi dan kabupaten/kota. Pembagian keuangan pada saat itu tidak proporsional. Kewenangan pemerintah dalam membuat peraturan daerah menyebabkan adanya benturan atau ketidak sesuaian dengan kepentingan pemerintah pusat. Akibatnya banyak peraturan daerah yang mengalami masalah tersebut dicabut atas perintah dari pemerintah pusat. Selain itu sumber daya alam milik daerah banyak dieksploitasi oleh pemerintah pusat, sehingga pemerintah daerah tidka memiliki kesempatan untuk mengolah sumber daya alamnya.

Menurut Mubyarto, dalam pelaksanannnya sendiri sistem ekonomi pancasila tidak begitu mengalami keberhasilan bahkan bisa dikatakan gagal. Hal ini disebabkan karena kegagalan pemerintah kita yang tidak bisa mempengaruhi rakyat indonesia dalam pembangunan ekonomi yang terlalu ditekankan pada pembangunan materi. Perkonomian nasional pada masa reformasi masih berada pada masa krisis, sebab kurs dollar masih tiga kali lebih tinggi daripada saat krisis moneter 1998. Bank masih belum mengucurkan kredit ke sektorr riil. Pemerintah indonesia menanggung beban utang yang sangat besar.


Kegiatan perekonomian tersebut memiliki perbedaan satu dengan yang lain ditempat yang berbeda. Begitu juga ekonomi, ekonomi itu berkembang seiring dengan perkembangan zaman sehingga akan tercipta suatu system dalam perekonomian.Sistem sendiri juga memiliki banyak artian menurut Chester A. sistem merupakan suatu rangkaian yang bersifat holistik dimana terdapat bagian-bagian yang masing-masingnya memiliki ciri ddan batas tersendiri yang saling berkaitan satu sama lain untuk mendukung sistem yang holistik.[17] Suatu sistem merupakan organisasi besar yang mampu menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga dalam tatanan tertentu.

Lembaga atau institusi ekonomi merupakan suatu pedoman, aturan atau kaidah yang digunakan untuk melakukan kegiatan-kegiatan oleh seseorang maupun mayarakat untuk memenuhi suatu kebutuhan. Kegiatan yang dilakukan yakni kegiatan ekonomi yang menyangkut dengan usaha, pasar, transaksi jual beli, pembayaran dengan uang. Lembaga ekonomi pada umumnya dapat dibedakan menjadi lembaga yang berdasarkan aturan, atau kaidah dan lembaga ekonomi yang berdasarkan tempat/wadah dari berbagai aturan atau kaidah yang berlaku.

Oleh sebab itu adanya teori sistem ekonomi bertujuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ekonomi yang ada. Jadi sistem ekonomi adalah suatu cabang ilmu ekonomi yang membahas persoalan pengambilan keputusan dalam tata susunan organisasi ekonomi untuk menjawab persoalan-persoalan ekonomi yang ada untuk mewujudkan tujuan nasional suatu negara. Adapun system ekonominya itu sendiri memiliki beberapa mazhab yaitu mazhab klasik, Keynes, dan klasik



Dalam jangka panjang, perekonomian selalu dalam keadaan equilibrium yang disertai dengan full employment. Hal ini diakibatkan oleh pandangan klasik bahwa harga dan tingkat upah merupakan variabel yang fleksibel. Hal tersebut menyebabkan keadaan disequilibrium memperbaiki keadaan yang menjadikan keadaan menjadi equilibrium dengan full employment.

Dalam jangka pendek, terdapat kemungkinan bahwa akan ditemii disequilibrium supaya terjadi reaksi perubahan terhadap tingkat harga dan upah dan memerlukan waktu. Hal tersebut juga terjadi pada masa transisi, jumlah uang yang beredar akan mempengaruhi perubahan baik tingkat harga maupun terhadap volume transaksi.

Sistem ekonomi klasik menyatakan bahwa tingkat harga dan jumlah uang yang beredar itu akan cenderung bergerak pada arah yang sama. Penyebab utama dari perubahan harga umum adalah adanya perubahan pada jumlah uang yang beredar. System ekonomi klasik juga menyatakan bahwa fungsi permintaaan uang itu bersifat stabil. Penyebab utama dari perubahan tingkat harga adalah jumlah uang yang beredar sehingga inflasi maupun deflasi dapat disembuhkan dengan cara mengurangi atau menambah uang yang beredar. Dengan kata lain, otoritas moneter dianggap selalu mampu mengontrol perubahan harga melalui pengontrolan uang yang beredar.

Perubahan jumlah uang yang beredar hanya mempengaruhi tingkat harga umum secara mutlak. Sedangkan sector riil hanya dapat berubah apabila terdapat perubahan pada tingkat harga relative dan data faktor-faktor riil lainnya. Inti permasalahan dari system ekonomi klasik ini adalah terletak pada tingkah laku individu dalam membuat keputusan.

Selain dari sektor-sektor tersebut, Indonesia masih memiliki sektor properti dimana pada tahun 2013-2015 menduduki peringkat ke 4. Hal ini tak lepas dari jumlah konsumen dengan daya beli tinggi dari kalangan menengah hingga elite. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang signifikan ini juga mengakibatkan semakin meningkatnya masyarakat menengah yang dengan demikian menjadi konsumen produk. Sesuai teori Keynes yang menyebutkan bahwa,  permintaan lebih kecil dibanding penawaran tidaklah terlalu berpengaruh bagi Indonesia. Kondisi yang dialami Indonesia saait ini adalah masyarakat dengan daya beli yang tinggi/konsumtif. Maka, dapat disimpulkan bahwa adanya penawaran disebabkan oleh permintaan yang tinggi dari konsumen yang lebih sesuai dengan teori klasik.


   Sistem ekonomi Keynes ini muncul sejak adanya pergolakan ekonomi di tahun 1930-an. Dimana John Mayard Keynes mengeluarkan kritik terhadap sistem ekonomi klasik dan neo-klasik yang dianggap tidak bisa mengendalikan sistem perekonomian dunia pada masa itu. Keynes memperkenalkan teori dan kitikannya ini melalui buku yang ia tulis berjudul ‘The General Theory of Employment, Interest. and Money’. Keynes banyak mengkritisi teori ekonomi klasik tentang ‘supply creates its own demand’ atau produksi/penawaran menciptakan permintaannya sendiri. Berbeda dengan teori neo-klasik yang tidak terlalu banyak dikritisi, namun justru disempurnakan oleh Keynes. Kritik dan penyempurnaan teori-teori ini dilakukan agar teori tersebut dapat berkembang sesuai kondisi zaman yang terus berkembang.

   Jean Baptiste Say, tokoh teori klasik beranggapan bahwa keadaan ekonomi akan cenderung bersifat seimbang atau ekuilibrium dengan adanya kesempatan kerja penuh yang dianggap tidak akan menciptakan kelebihan produksi dan juga tidak terjadi kekurangan konsumsi. Hal ini berpegang pada teori klasik bahwa produksi cenderung dapat menciptakan permintaannya sendiri akan hasil produksi. Anggapan klasik inilah yang menurut Keynes sudah tidak sesuai dengan keadaan pada masa itu, dimana terjadi stagnasi perekonomian dan pengangguran yang cukup besar. Atas dasar inilah, Keynes menkritisi teori klasik dan neo-klasik.

   Keynes beranggapan bahwa pada kenyataannya permintaan lebih kecil daripada penawaran dengan alasan bahwa pendapatan yang diterima masyarakat sebagian akan ditabung dan tidak semua pendapatan dikonsumsi. Dengan demikian, logika yang muncul adalah permintaan akan lebih kecil dari penawaran atau barang produksi. Fenomena perusahaan bersaing memproduksi dengan jumlah yang banyak tanpa diiringi pendapatan masyarakat yang meningkat ini yang terjadi pada tahun 1930. Maka tak dapat dipungkiri bahwa kegitan produksi itu mengakibatkan banyak produk yang tidak terjual dan kerugian besar bagi perusahaan yang berdampak pada pengangguran pekerja secara besar-besaran. Karena, teori klasik menggunakan cara penurunan upah dalam mengatasi masalah pengangguran. Sedangkan teori Keynes mengatasinya dengan memperbanyak investasi.

   Permintaan agregat yang dimaksud Keynes dalam teorinya adalah seluruh jumlah uang yang dibelanjakan oleh masyarakat dalam jangka waktu satu tahun untuk membeli barang dan jasa. Dalam perekonomian tertutup permintaan agregat, terdapat 3 unsur pokok, yaitu : pengeluaran konsumsi oleh rumah tangga (C) ; pengeluaran investasi oleh perusahaan (I) ;  dan pengeluaran pemerintah (G). Maka dapat disimpulkan dengan rumus :


Z = C + I + G
                                                                                     




 

Maka, dapat disimpulkan bahwa teori Keynes menyatakan bahwa :

-  Menyarankan adanya campur tangan pemerintah.

-  Mekanisme pasar tidak menjamin terciptanya full employmen dalam perekonomian.

-  Pentingnya stabilitas harga.

-  Menitikberatkan pada investasi bukan pengurangan upah.

-  Permintaan akan selalu lebih kecil dari penawaran produk.

-  Jumlah tabungan tidak sama dengan jumlah investasi.

Indonesia dewasa ini mengalami peningkatan perekonomian yang cukup baik dibanding tahun-tahun sebelumnya. Banyak pihak menyakini bahwa Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara perekonomian maju seperti Amerika, China, Korea, Eropa, dan Jepang dalam beberapa tahun mendatang. Dalam level regional ASEAN, Indonesia menjadi sorotan banyak negara dengan menjadi negara yang cukup mampu bertahan dalam krisis dibanding negara ASEAN lainnya. Pada tahun 2013, Indonesia mendapat kenaikan tingkat perekonomian sekitar 6,3% tak jauh beda dengan perekonomian China yaitu 7,7%. Hal inilah yang membuat Indonesia optimis dalam usaha peningkatan sektor-sektor perekonomian guna mewujudkan cita-cita dapat bersaing dengan perekonomian negara maju.

   Posisis perekonomian Indonesia di level dunia atau internasional pun tidak jauh berbeda. Indonesia dipandang sebagai negara yang memiliki peningkatan perekonomian yang baik dan cukup signifikan. Jika menilik posisi perekonomian Indonesia pada tahun 2012 dan 2014, Indonesia dapat menjadi negara yang dicari-cari para investor untuk menanamkan modalnya. Menurut data World Bank, pada tahun 2012, Indonesia berada pada ranking 16 perekonomian internasional. Sedangkan dua tahun setelahnya, 2014, Indonesia naik drastis menjadi ranking 10 perekonomian internasional dengan peningkatan GDP sebanyak 2,3%.

   Menurut berbagai pihak, kondisi perekonomian Indonesia yang meningkat lebih baik dapat lebih ditingkatkan dengan cara efisiensi energi, pengembangan sumberdaya manusia, dan pengembangan industri dalam sektor pertanian. Dengan melakukan pengembangan sumberdaya manusia, Indonesia dapat menjalankan berbagai proses industri tanpa melibatkan tenaga kerja asing, dimana hal ini dapat menekan pengeluaran perusahaan dan meningkatan efisiensi. Selain itu, Indonesia sudah diketahui sejak lama, sebagai negara yang memiliki potensi agraris yang sangat baik. Disinilah seharusnya Indonesia mengembangkan industrinya supaya dapat menjadi eksportir produk pertanian yang menguntungkan.

Namun, disisi lain, teori Keynes secara tidak langsung ikut menyumbang bahwa perekonomian Indonesia masih secara langsung maupun tidak dipegang/ada ikut campur tangan pemerintahan dalam penentuan harga, produksi dan sasaran. Juga, dapat dilihat bahwa investasi yang diterima Indonesia dari pihak asing terbilang cukup tinggi. Dengan kata lain, Indonesia lebih mementingkan peningkatan investasi dibanding harus memotong upah pegawai.


System ekonomi moneter itu merupakan system ekonomi yang berdasarkan teori moneter. Tugas utamadari system ekonomi moneter adalah menyediakan uang untuk kebutuhan masyarakat di suatu Negara yang dapat diterima secara umum dan suplainya fleksibel untuk memenuhi keperluan aktivitas ekonomi yang bersangkutan.

Teori moneteris itu digagas oleh Militon Friedman. Teorinya itu lebih dikenal sebagai teori kuantitas modern. System ekonomi moneteris dipengaruhi oleh komposisi neraca pembayaran dan komposisi portofolio asset. System ekonomi moneteris  menyatakan bahwa total kemakmuran bukanlah factor pembatas terhadap fungsi permintaan uang. Hal ini disebabkan karena jumlah asset yang produktif merupakan variable yang dapat ditentukan oleh perusahaannya sendiri dalam mencapai keuntungan semaksimalmungkin. Jadi, skala factor produksi atau usaha yang dianggap indeks jumlah nilai yang dimiliki perusahaan merupakan variable yang mempengaruhi fungsi permintaan uang.

System ekonomi moneteris itu menyatakan bahwa elastisitas terhadap permintaan uang kepada pendapatan riil itu sama dengan satu. System ekonomi moneteris juga mengatakan bahwa tingkat Bunga nominal yang berlaku di pasar itu sama dengan tingkat bunga yang diharapkan ditambah dengan tingkat perubahan harga yang diharapkan. Harapan tersebut dipegang kuat oleh para speculator.

System ekonomi monetarisitu membedakan antara tingkat bunga riil yang diantisipasi dengantingkat pertumbuhan ekonomi yang ditentukan secara eksogen. Selanjutnya, system ekonomi monetaris lebih menekankan pada variasi tingkat ekspansi moneteryang dilakukan oleh otoritas moneter sebagai variable yang menentukan perubahan tingkat pengangguran.

Pada poporsi pertamanya, system ekonomi monetarisme menyatakan bahwa tingkat pertumbuhan stok yang dibandingkan periode sebelumnya merupakan satu-satunya factor sistematis yang menentukan inflasi. System ekonomi moneter juga menyatakan pilihan antara usaha pepenrunan inflasi dengan peningkatan tingkat pengangguran secara kontemporer.

System ekonomi moneter juga menyatakan bahwa peningkatan ekspansi moneter secara temporer akan mengurangi pengangguran dan secara permanen akan meningkatkan inflasi. Pada waktu pertama kalinya, perubahan tingkat ekspansi moneter akanmenyebabkan perubahan pada variable riil dan mempengaruhi tingkat inflasi. Proses mempengaruhi tersebut berbeda secara mendasar dengan golongan kuantitas yang menyatakan bahwa kebijaksanaan moneter yang diantisipasi mempengaruhi variable nominal saja bukan variabel riil.

Moneterisme juga menyatakan bahwa tingkat inflasi itu dipengaruhi oleh ekspansi moneter yang dilakukan sebelumnya. Sedangkan, diselerasi ekspansi moneter akan meningkatkan tingktat pengangguran. System ekonomi moneter juga menyatakan bahwa ekspansi moneter pada tingkat tinggi selama beberapa tahun bersamaan dengan penurunan ekspansi moneter akan mempengaruhi secara langsung terhadap tingkat pengangguran. Meskipun demikian, tingkat inflasi akan tetap tinggi karena pengaruh inersia dari ekpansi moneter periode sebelumnya. Dalam system ekonomi moneter terdapat pengorbanan social sebagai umpan balik dari upaya menanggulangi inflasi yang berupa peningkatan pengangguran dan penurunan output.


BAB IV


PENUTUP



Kondisi ekonomi di Indonesia mengalami beberapa perubahan dan perkembangan sehingga membentuk sebuah dinamika. Perubahan  kepemimpinan merupakan faktor utama dari perubahan struktur ekonomi. Pada masa Orde Lama yang dipimpin oleh Soekarno, pembangunan ekonomi Indonesia berorientasi ke dalam. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan sikap pemerintah pada Orde Lama yang anti terhadap bantuan dari luar negeri. Kebijakan-kebijakan yang diberikan justru membawa Indonesia dalam keterpurukan ekonomi.

Sistem ekonomi Indonesia pada era orde baru sebelum adanya campur tangan dari IMF kita semua mengetahui rentetan krisis ekonomi yang sedang terjadi di Indonesia sejak pertengahan tahun 1997 dimana awalnya dirasakan sebagai efek dari krisis moneter yang terjadi di wilayah kawasan Asia tenggara, yang bermula dari Thailand ketika pemerintahnya pada tanggal 2 juli 1997 menurunkan nilai mata uang Baht. Selang 2 minggu setelah pemerintah Thailand menurunkan nilai mata uangnya, nilai tukar rupiah mulai melemah dan terus mengalami anjlok hingga kurs rupiah pernah menyentuh nilai tukar sebesar Rp. 15.000,00 per dolar AS pada awal tahun 1998, krisis nilai tukar rupiah juga diikuti dengan adanya krisis ekonomi secara keseluruhan yang pada awalnya krisis tersebut hanya dirasakan pada sektor perbankan namun juga rakyat Indonesia juga terkena imbas dari krisis ekonomi tersebut.

Pada masa reformasi system ekonomi yang dipakai adalah system ekonomi pancasila. Sistem ekonomi pancasila dapat di definisikan sebagai sistem ekonomi yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945 dan dipadukan dengan sistem ekonomi campuran. Pelaksanaannya dilakukan secara demokratis, yaitu seluruh lapisan masyarakat Indonesia harus diberdayakan agar terciptanya keadilan dan kemakmuran.[18]

Pada teori klasik, permintaan uang itu tidak dipengaruhi oleh variabel tingkat bunga sehingga kebijaksanaan moneter itu lebih efektif itu daripada kebijaksanaan fiscal. Perubahan uang yang beredar itu tidak mempengaruhi sector pendapatan riil baik pada tingkat output ataupun pada  kesempatan kerja sehingga menunjukkan adanya dikotomi antara sector riil dengan sector moneter.

Teori Keynes mengatakan penting adannya peran pemerintah dalam perekonomian. Kebijakan pasar tidak begitu saja diserahkan ke pasar, namun dalam hal tertentu pemerintah dapat ambil alih dalam pengambilan kebijakan khususnya pengeluaran dan permintaan yang dianggap dapat mempercepat proses kestabilan dan kembali menjalankan sistem perekonomian yang sudah tidak sesuai jalan kebijakan.

Permintaan akan uang merupakan masalah yang paling mendasar yang akan dihadapi oleh system ekonomi moneter. Masing-masing Negara memiliki standar-standar moneter yang merupakan aturan-aturan khusus yang mendeterminasi jumlah dan kualitas uang yang beredar dan menentukan sarat-syarat penukaran mata uang.


Adapun saran yang ingin diberikan kepada pembaca adalah pemerintah Indonesia sekararang sebaiknya dapat mengambil sejarah dari masa orde lama, masa orde baru, dan reformasi dalamhal perekonomiannya. Begitu juga, perekonomian Indonesia itu sebaiknya mengambil hal-hal baik yang ada di system ekonomi klasik, system ekonomi Keynes, dan system ekonomi moneteris.


 


DAFTAR PUSTAKA

 



Boediono. (1996). Seri Sinopsis Pengantarv Ilmu Ekonomi No. 5 Ekonomi Moneter Edisi ketiga. Yogyakarta: BPFE-YOGYAKARTA.

Dumairy. (1996). Perekonomian Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Dumairy. (1997). Perekonomian Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Laily, N., & Pristiyadi, B. (2013). Teori Ekonomi. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Mubyarto. (1989). Pelaku dan Politik Ekonomi Indonesia. Yogyakarta: Liberty.

Rahardjo, M. D. (1987). Perekonomian Indonesia : Pertumbuhan dan Krisis. Jakarta: LP3ES.

Saidi, Z. (1998). Soeharto Menjaring Matahari Tarik-Ulur Reformasi Ekonomi Orde Baru Pasca 1980. Bandung: Mizan.

Sinungan, M. (1987). Kebijaksanaan Moneter Orde Baru. Jakarta: Bina Aksara Jakarta.

Subandi. (2014). Sistem Ekonomi Indonesia (8th ed.). Bandung: Penerbit Alfabeta Bandung.

Tambunan, T. T. (2001). Transformasi Ekonomi di Indonesia : Teori dan Penemuan Empiris . Jakarta: Salemba Empat.

Widjaja, A. (1988). Budaya Poltik dan Pembangunan Ekonomi. Jakarta: PT. Kincir Buana.

 


 

 



[1] Laily, N., & Pristiyadi, B, (2013), Teori Ekonomi, Yogyakarta: Graha Ilmu, Hal. 3
[2] Ibid, hal. 7
[3] Ibid hal. 9
[4] Mubyarto, 1989, lPelaku dan Politik Ekonomi Indonesia, Yogyakarta, Liberty
[5] Ibid, hal 136
[6] Ibid, hal 139
[7] Drs. Dumairy, M..A., 1996, Perekonomian Indonesia, Jakarta, Penerbit Erlangga (Dumairy, Perekonomian Indonesia, 1996)
[8] Dr, Subandi, M.M., 2014, Sistem Ekonomi Indonesia, Bandung, Penerbit Alfabeta Bandung, Cetakan ke-8, halaman (Widjaja, 1988)35
[9] Ibid, halaman 36
[10] Albert Widjaja, 1988, Budaya Politik dan Pembangunan Ekonomi, Jakarta, Penerbit P.T Kincir Buana, halaman 100-101
[11]Zaim Saidi, SOEHARTO MENJARING MATAHARI: TARIK - ULUR REFORMASI EKONOMI ORDE BARU PASCA-1980, Mizan, Bandung, 1998, Hal. 17 – 18
[12]Ibid.,Hal. 20 – 21.
[13]Ibid., Hal. 22 – 24
[14]Dr. Tulus T.H. Tambunan, TRANSFORMASI EKONOMI DI INDONESIA : TEORI & PENEMUAN EMPIRIS, Salemba Empat, Jakarta, 2001, Hal. 10 – 11.
[15]Ibid., Hal.13
 
[17] Dr, Subandi, M.M., 2014, Sistem Ekonomi Indonesia, Bandung, Penerbit Alfabeta Bandung, Cetakan ke-8
 
[18] Dr. Subandi, M.M, Sistem Ekonomi Indonesia, (Bandung : Alfabeta, 2014) halaman 18

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS