Securitisation: Taking stock of a
research programme in Security studies.
Ole Waefer
Pada
awalnya, pengarang memulainya dengan memberi sub-judul yang berjudul
"Menilai teori dan program penelitian atau melanjutkan perang
paradigma". Dalam sub-judul
tersebut, Ole Waefer mengatakan bahwa seseorang telah salah pengertian terkait
paradigma. Ketika menilai suatu teori, fokus sebaiknya tidak pada asumsinya
melainkan itu bekerja sesuai dengan teori dan terutama kita sebaiknya tidak
mendasarkan pernyataan kita pada kesalahan yang disebabkan oleh kesalahan
interaksi (hubungan).
Setelah
itu, pengarang memaparkan suatu sub-judul lagi yang berjudul "sekolah dan
debat dalam studi keamanan - Timur dan Baratnya Atlantik. Pengarang
menceritakan terkait pelajaran hubungan internasional yang menampilkan
pembagian derajat yang luar biasa antara perkembangan teoritis Eropa dan
Amerika. Setelah itu, pengarang menjelaskan perbedaan teoritis Eropa dan
Amerika.
Kemudian,
pengarang membuat sub-judul mengenai the Copenhagen School. Dalam sub-judul
tersebut, pengarang memberikan penjelasan mengenai the Copenhagen School.
Terdapat tiga ide utama dalam the Copenhagen School. Namun, pengarang
mengatakan bahwa dirinya akan lebih fokus pada salah satu dari ide tersebut,
yakni sekuritisasi.
Setelah
itu, penulis menjelaskan terkait sub-judul baru, yakni Wideners vs
tradisionalis-third way. Dalam sub-judul tersebut, penulis mengungkapkan
terkait debat antara "Wideners vs traditionalists". Adapun terkait
tema yang diambil adalah pengertian sempit dan luas dari konsep keamanan.
Kemudian,
pengarang memberikan suatu sub-bab lagi. Judulnya adalah "But what is
security?" Dalam sub-bab tersebut, pengarang menjelaskan terkait
pengertian mengenai "security". Kemudian, pengaraang juge menjelaskan
terkait sekuritisasi. Tidak hanya itu, penulis juga memberika penjelasan
mengenai konsep-konsep kunci mengenai sekuritisasi.
Setelah
itu, pengarang membuat sub-judul lagi yang diberi nama "Securitisation and
De-securitisation". Dalam sub-judul ini, penulis berusaha untuk memberikan
suatu penjelasan lebih detail terkait sekuritisasi dan de-sekuritisasi. Tidak
hanya itu, penulis juga menggambarkan peta konsep mengenai konsep keamanan dari
dua ke tiga.
Kemudian,
penulis menampilkan kembali sub-judul yang baru, yakni "Facilitating
conditions of the security speech act". Dalam sub judul tersebut,
pengarang menjelaskan terkait kondisi-kondisi yang mudah dalam "security
speech act". Dalam penjelasannya, pengarang menyebutkan tiga kondisi mudah dalam sekuritisasi.
Setelah
itu, pengarang menampilkan sub-judul baru, yakni "Deepening our
understanding of security dynamics through sectors. Dalam sub-judul tersebut,
pengarang berusaha untuk menjelaskan pengertian "security" dalam
beberapa sektor. Adapun sektor yang dibahas adalah masyarakat, politik atau
militer, ekonomi, dan lingkungan. Dalam penjelasannya, pengarang juga membuat
peta konsep mengenai penjelasannya tersebut.
Kemudian,
pengarang menampilkan sub-judul baru, yakni "But the real threats ....?"
Dalam penjelasan tersebut, pengarang menjelaskan terkait ancaman sesungguhnya
dalam konsep keamanan. Pengarang menyebutkan bahwa keamanan itu sendiri
merupakan masa depan. Hal terpenting yang dilakukan sekarang adalah menanyakan
kepada diri sendiri apakah kita itu aman dan ancamannya itu apa saja. Pengarang
juga memberikan dua pengandaian. Pertama adalah apabila kita tidak berbuat
apa-apa, maka hal tersebut merupakan suatu ancaman. Sedangkan, Yang kedua
adalah apabila kita mengerjakan suatu sebagaimana yang direkomendasikan, maka
hal tersebut merupakan suatu bentuk bertahan.
Setelah
itu, pengarang menampilkan sub-judul kembali, yakni, "What research
question can the theory deal with?". Dalam pembahasan dalam sub-judul
tersebut, pengarang berusaha untuk menampilkan dan menjelaskan pertanyaan
lanjutan atau pertanyaan kritis terkait teori sekuritisasi. Dalam pembahasan
kali ini, pengarang menyebutkan sekitar enam topik terkait hal-hal yang kurang
diperhaatikan dalam teori sekuritisasi.
Kemudian,
penulis menambahkan kembali sub-judul yang baru. Sub-judul tersebut berjudul
"More immediate political usage". Dalam sub-bab tersebut, pengarang
berusaha untuk memberikan penjelasan terkait penggunaan politik dalam teori
sekuritisasi. Pengarang menyebutkan tiga kegunaan politik dalam teori
sekuritisasi. Pertama berada dalam hubungannya. Hal tersebut bertujuan untuk
mengatur konstelasi keamanan. Kedua adalah menambah makna politik dalam
tanggung jawabnya di ranah praktisi dan analis. Sedangkan, ketiga adalah untuk
memperjuangkan "speech act" secara langsung.
Kemudian,
pengarang berusaha untuk menampilkan sub-judul baru, yakni "Strengths,
weaknesses, and further development of the theory". Dalam sub-bab
tersebut, penulis menuliskan penjelasan dari sub-judul tersebut, serta tujuh
pihak yang mengkritik terkait teori sekuritisasi.
Setelah
itu, pengarang menyimpulkan hasil penelitiannya.