APAPUN ADA DI SINI

ABIEEZZZ TDUWWRRR QOUWWHH TYYUUUZZSSHH MNNDDDIIIEEEHH TDAKQ YUPA MNGGOZZSSSOOKKQQ GIEYGIEYH

SALJU

DAUN

kursor

RSS
Home » HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA MALAYSIA DALAM KOMODITI KELAPA SAWIT PADA TAHUN 2010-2015

HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA MALAYSIA DALAM KOMODITI KELAPA SAWIT PADA TAHUN 2010-2015


HUBUNGAN BILATERAL INDONESIA MALAYSIA DALAM KOMODITI KELAPA SAWIT PADA TAHUN 2010-2015

PROPOSAL PENELITIAN

DisusunUntukMemenuhiSebagianPersyaratanMemperolehNilaidalam Mata KuliahMetodePenelitianSosial

 

DosenPengampu :Mondry S. Sos., M. Si.

Disusunoleh :

AndhitaAgustianaHindrawati           145120407111003      

Caterine Mega Putri                           145120401111065

DhannyPratamaKusuma Jaya           145120407111048

FebriDwiansyahArmadani                 145120401111031

Madeline K. Jahamou                        145120400111052

 


 

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Perkembangan kehidupan manusia di dunia pada saat ini tidak terlepas dari ketergantungannya dengan manusia yang lain. Tidak hanya ketergantungan dengan manusia, namun ketergantungan dengan alam juga makin besar. Dalam hubungan internasional (HI), kajian kerjasama antar negara merupakan bentuk interaksi yang dilakukan oleh negara. Kerjasama bilateral maupun multilateral merupakan bentuk dari pemenuhan kebutuhan yang dilakukan oleh negara. Seperti halnya dengan yang dituliskan oleh Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani yakni sebagai berikut:

“Hubungan internasional merupakan bentuk interaksi antara aktor atau anggota warga yang satu dengan aktor atau anggota masyarakat lain. Terjadinya Hubungan Internasional merupakan suatu keharuan sebagai akibat adanya saling ketergantungan dan bertambah kompleksnya kehidupanmanusia dalam masyarakat internasional sehingga interdependensi tidak membuat kemungkinan akan adanya suatu negara yang menutup diri terhadap dunia luar”[1]

           

Salah satu kerjasama yang dilakukan antar negara adalah kerjasama Indonesia dan Malaysia. Kedua negara ini memiliki kedekatan secara sejarah maupun geografisnya. Tidak hanya kesamaan sejarah maupun geografisnya tapi kedua negara ini juga merupakan anggota dalam ASEAN. Sejarah mencatat bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia terjalin setelah Malaysia memperoleh kemerdekaannya dari Inggris pada 31 Agustus 1957. Namun hubungan antar negara sebenarnya sudah terjalin pada zaman dahulu sebelum kedua negara merdeka, dulunya aktor dalam kerjasama kedua negara ini adalah kerajaan, hubungan yang dijalin tersebut membuahkan hasil dimana penduduk malaysia tidak menganggap orang-orang Bugis dan Minangkabau sebagai orang asing.[2]

            Hubungan yang sudah terjalin sejak jaman kerajaan ini terus berkembang sepanjang zaman hingga saat ini. Berbagai bidang telah dijajaki oleh kedua negara dalam melakukan kerjasama, mulai dari kerjasama militer yang diwujudkan dalam bentuk latihan militer bersama yang telah digelar beberapa kali, hingga kerjasama dibidang ekonomi yang berkaitan dengan industri dan perdagangan. Salah satunya adalah dibidang perdagangan kelapa sawit, atau yang lebih populer untuk diekspordalam bentuk Crude Palm Oil ( CPO ).

Kelapa sawit merupakan salah satu jenis tanaman pohon yang tumbuh tidak merata, habitatnya adalah didaerah dataran rendah terutama pada daerah – daerah tropis. Tanaman kelapa sawit sangat kaya akan manfaat, hampir semua jenis bagian dari tanaman ini dapat dimanfaatkan dan diolah menjadi produk – produk baru. Kemudian bagian tubuh lainnya, kulitdan daging kelapa sawit dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan minyak goreng. Manfaat dari kelapa sawit tidak hanya terdapat pada buahnya saja, manfaat lain juga terdapat pada sisa hasil pengolahan kelapa sawit, yang dapat diolah menjadi makanan ternak. Selain manfaat yang disebutkan diatas, kelapa sawit dapat diolah lagi menjadi puluhan varian produk turunan lainnya yang diminati oleh pasar internasional, sehingga menjadi primadona komoditi ekspor Indonesia.

Sebagai negara dengan penghasil kelapa sawit terbesar didunia, kerjasama bilateral antara Indonesia dan Malaysia dibidang kelapa sawit ini, dapat dijadikan salah satu bentuk kerjasama strategis yang bisa terus dipacu, untuk meningkatkan pengembangan bagi industri yang sudah ada dan untuk menunjang peningkatan hasil dari industri kelapa sawit kedua negara.

Besarnya potensi kelapa sawit kedua negara dapat terlihat dari besarnya presentase produksi sawit yang mampu dihasilkan oleh Indonesia dan Malaysia. Dalam setahun, Indonesia mampu memproduksi 31,1 juta ton kelapa sawit per tahun, sedangkan Malaysia mampu memproduksi 19,2 juta ton kelapa sawit per tahunnya. Dengan total produksi yang sedemikian besar, Indonesia dan Malaysia dinobatkan sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di Asia Tenggara, bahkan didunia.Indonesia dan Malaysia juga merupakan penyokong terbesar supply kelapa sawit dunia yaitu sebesar 85% dari kebutuhan pasar global.

Besarnya total produksi yang dicapai oleh Indonesia dan Malaysia ini, ditunjang oleh luasnya lahan kelapa sawit yang dimiliki oleh kedua negara. Di Indonesia, lahan kelapa sawit tersebar diwilayah Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan, dengan total luas lahan kelapa sawit mencapai lebih dari 10juta hektare. Sedangkan di Malaysia, luas lahan kelapa sawit mencapai lebih dari 4 juta hektare. 

Sebagai negara dengan pengahasil minyak kelapa sawit terbesar, tahun 2020 yanng akan datang, Indonesia tentu menjadi tahun yang sangat menggebirakan bagi industri sawit Indonesia. Menurut artikel yang ditulis pada Mitra Ogan, pada tahun 2020, akan terjadi peningkatan permintaan minyak nabati dunia, yang dalam hal ini akan mempengaruhi peningkatan akan permintaan minyak kelapa sawit sebagai salah satu minyak nabati yang banyak dikonsumsi. Peningkatan akan permintaan minyak nabati ini terjadi, karena adanya peningkatan terhadap jumlah konsumsi yang meningkat, akibat adanya pertambahan jumlah penduduk. Besarnya peningkatan jumlah penduduk serta ukuran peningkatan jumlah konsumsi masyarakat ini, tercermin pada peningkatan kebutuhan minyak nabati India dan China sebagai negara dengan tingkat konsumerisme minyak nabati tinggi.[3]

 

Tabel: perbandingan volume ekspor CPO Indonesia menurut Negara Tujuan

Negara
2011
2012
2013
2014
India
4,26jt ton
3,24jt ton
3,10jt ton
2,88jt ton
Malaysia
1,24jt ton
0,59jt ton
0,43jt ton
0,28jt ton
Singapura
0,63jt ton
0,63jt ton
0,54jt ton
0,53jt ton
Belanda
0,60jt ton
1,11jt ton
1,09jt ton
0,87jt ton
Italia
0,49jt ton
0,58jt ton
0,68jt ton
0,60jt ton

Sumber : Indonesian oil palm statistics

 

Sebagai salah satu negara pengimpor minyak kelapa sawit terbesar dari Indonesia, tak mengherankan jika dari tabel diatas, dapat dikatakan bahwa peningkatan permintaan akan minyak kelapa sawit oleh negara seperti India akan memberikan manfaat terhadap peningkatan laba produksi kelapa sawit yang dilakukan oleh Indonesia. Untuk dapat memenuhi peningkatan jumlah konsumsi minyak kelapa sawit yang diperkirakan akan meningkat pada tahun 2020, Indonesia perlu melakukan pengembangan terhadap industri kelapa sawit yang ada, serta kapabilitas lebih untuk mengatasi masalah – masalah yang berpotensi menjadi hambatan dalam pengembangan industri ini.

            Ada banyak cara yang telah ditempuh oleh Pemerintah Indonesia untuk menghadapi problema terkait industri kelapa sawi, salah satu cara yang sudah ditempuh oleh Indonesia untuk memajukan industri kelapa sawit adalah dengan menjalin kerjasama dibidang kelapa sawit dengan Malaysia. Kerjasama pada industri kelapa sawit ini meliputi kerjasama terkait dengan investasi pada proses untuk industri sawit dalam negerti, perlindungan tenaga kerja dalam industri sawit baik domestik, dan juga tenaga kerja Indonesia di perkebunan sawit wilayah Malaysia , dan kerjasama dalam bentuk penetuan harga kelapa sawit, selain itu kedua negara juga berambisi untuk menjadi penentu standarisasi sawit, mengingat besarnya peranan kedua negara dalam industri kelapa sawit global.

Kerjasama bilateral dibidang kelapa sawit yang dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia pertama kali digagas tahun 2008, ditandai dengan adanya World Sustainable Palm Oil Industry di London, tujuan pembentukan World Sustainable Palm Oil Industry adalah menangkal isu – isu negative terkait industry kelapa sawit di kedua negara, seperti isu – isu lingkungan yang terkait dengan kerusakan lingkungan yang diakibatkan  oleh adanya industri kelapa sawit yang dijalankan di dua negara tersebut. Kerjasama ini kemudian berlanjut pada tahun 2010, yaitu dimana kedua negara sepakat untuk menandatangani MoU terkait perkembangan industry sawit berkelanjutan.[4]

Setelah dua kerjasama dibidang kelapa sawit dilakukan, pada tahun 2015, kedua negara kembali menggelar kerjasama dengan mendirikan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) atau bisa disebut juga sebagai Dewan Negara Produsen Sawit. Tujuan didirikannya CPOPC ini adalah untuk mempromosikan, mengembangkan, dan memperkuat kerjasama kedua negara dan juga beberapa negara lain yang diajak bergabung dalam CPOC. Salah satu cara yang dilakukan oleh CPOC untuk mengembangkan industri sawit adalah dengan melakukan penetapan harga sawit dipasaran. Selain menghadapi isu – isu klasik terkait industri sawit, kedepannya, CPOC ingin menghadirkan solusi terhadap permasalahan lingkungan yang terjadi akibat adanya industri kelapa sawit dilingkungan negara – negara anggotanya. Isu lingkungan seringkali menjadi fokus isu dalam berbagai kerjasama industri kelapa sawit. Karena industri kelapa sawit sangat rentan menimbulkan kerusakan lingkungan disekitarnya, terutama akibat kebakaran hutan yang diakibatkan oleh pembukaan lahan baru, serta pembukaan lahan baru pada daerah yang tidak semestinya, seperti yang banyak terjadi di Indonesia, seringkali pembukaan lahan baru kelapa sawit dilakukan ditanah gambut.

Dari beberapa kerjasama, nilai RCA dapat didefinisikan yang merupakan gambaran dari kinerja ekspor suatu komoditi yang telah dilakukan oleh Indonesia dan Malaysia dalam industri kelapa sawit, dalam penelitian ini akan diteliti lebih jauh adakah faktor yang secara spesifik memiliki peran dominan dalam mendorong terwujudnya kerjasama – kerjasama yang ada, serta dampak yang ditimbulkan dari kerjasama yang dilakukan oleh kedua negara dalam sektor terkait yaitu investasi dan juga masalah ketenagakerjaan dalam industri kelapa sawit.

1.2 Rumusan Masalah

            Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yaitu apakah hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia dalam komoditi kelapa sawit pada tahun 2010 sampai 2015 mengalami perubahan dari tahun sebelumnya (2006-2010)?

 

1.3 Tujuan

            Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan yang terjadi pada hubungan bilateral antara Indonesia dan Malaysia dalam komoditi kelapa sawit tahun 2010 sampai 2015.

 

1.4 Manfaat

            Hasil penelitian yang dilakukan atas perubahan yang terjadi pada hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia dibidang sawit ini bisa menjadi refrensi bagi penelitian terkait hubungan bilateral kedua negara.


 

                                                            BAB II

                                                TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1       Studi Terdahulu

a.     Hagi, Syaiful Hadi, dan Ermi Tety. Analisis Daya Saing Ekspor Minyak Sawit Indonesia dan Malaysia di Pasar Internasional Selama Periode 1995-2009.

Penelitian ini menggunakan analisis daya saing sebagai konsep yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan Constant Market Share (CMS) dan analisis Revealed Comparataive Advantage (RCA). CMS digunakan untuk mengukur dinamika tingkat daya saing ekspor, sehingga dapat diketahui apakah ekspor suatu komoditas mengalami peningkatan atau penurunan, sedangkan nilai RCA merupakan gambaran dari kinerja ekspor suatu komoditi.

Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa dinamika tingkat kekuatan saing antara Indonesia dan Malaysia telah berkembang dalam konteks ekspor dan pangsa pasar minyak sawit di dunia terutama di benua Asia dan Eropa. Minyak sawit Indonesia lebih berdaya saing dibandingkan dengan minyak sawit Malaysia di Benua Asia. Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki perbedaan harga mencapai 5 US$ untuk setiap ton dengan harga minyak sawit di Malaysia yang lebih tinggi. Sedangkan minyak kelapa sawit Malaysia lebih berdaya saingdibandingkan dengan minyak sawit Indonesia di benua Eropa karena standarisasi mutu minyak sawit Indonesia masih belum memenuhi standarisasi Eropa. Sebagaimana dalam pencantuman kandungan kadar logam dalam klasifikasi mutu minyak sawit yang diekspor. Faktor lainnya adalah adanya kampanye negatif dari beberapa LSM di negara-negara Eropa.

Penelitian ini juga menyebutkan bahwa Indonesia dan Malaysiamerupakan negara eksportir minyak sawit yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata indeks spesialisasi perdagangan kedua negara yang menunjukkan nilai yang positif. Penelitian ini digunakan oleh peneliti sebagai acuan dalam menentukan dan memberikan informasi kepada peneliti untuk membatasi obyek penelitian, yaitu Indonesia dan Malaysia.

b.     Anton Purnomo, Analisis Keterpaduan Pasar Internasional Minyak Kelapa Sawit (1986-1992).

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keberagaman produksi dan konsumsi minyak kelapa sawit  di Indonesia, Malaysia dan Belanda serta menelaah keterpaduan pasar minyak kelapa sawit dengan melihat secara khusus. Memperkirakan juga harga minyak kelapa sawit Indonesia dan menelaah strategi pemasaran yang perlu diterapkan oleh Indonesia dalam pasar minyak kelapa sawit.

Berdasarkan analisis keterpaduan pasar minyak kelapa sawit dengan menggunakan metode Model Vektor Autoregresi (VAR).Anton menyimpulkan bahwa untuk jenis CPO dan RBD Olein, pasar Rotterdam (Belanda) merupakan pemimpin pasar bagi Indonesia, sedangkan Malaysia tidak terhubung sama sekali dengan pasar Rotterdam dan Indonesia. Dan untuk jenis RBD Stearin, tidak ada satu pasar yang menjadi pemimpin. Walaupun penelitian ini sudah berlangsung lama bebarapa tahun yang lalu, tetapi bisa menjadi referensi penulis untuk melihat kondisi sejarah kelapa sawit di Indonesia, Malaysia dan Belanda.

Dari paparan hasil studi pendahuluan di atas, digunakan peneliti sebagai referensi untuk membahas lebih lanjut mengenai bentuk kerjasama bilateral antara Indonesia dan Malaysia. Fokus penelitian ini lebih ditujukan melalui sektor kelapa sawit karena mengingat bahwa Indonesia dan Malaysia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

Pembanding
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Hagi, Syaiful Hadi, dan Ermi Tety. Analisis Daya Saing Ekspor Minyak Sawit Indonesia dan Malaysia di Pasar Internasional Selama Periode 1995-2009.
Anton Purnomo, Analisis Keterpaduan Pasar Internasional Minyak Kelapa Sawit (1986-1992).
Peneliti
Hubungan Bilateral antara Indonesia dan Malaysia dalam Komoditi Kelapa Sawit pada tahun 2010 sampai 2015
Pendekatan atau metode
pendekatan Constant Market Share (CMS) dan analisis Revealed Comparataive Advantage (RCA)
metode Model Vektor Autoregresi (VAR)
Pendekatan korelasional
Jenis
Kuantitatif
Kualitatif
Kuantitatif
Hasil
Indonesia dan Malaysiamerupakan negara eksportir minyak sawit yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata indeks spesialisasi perdagangan kedua negara yang menunjukkan nilai yang positif
bentuk kerjasama bilateral antara Indonesia dan Malaysia dalam sektor kelapa sawit
 

 

2.2       Kerangka Konseptual

Konsep ialah suatu ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol[5]. Penyusunan kerangka konseptual dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan memunculkan konsep-konsep yang relevan dalam setiap variabel yang diamati sekaligus menghubungkan konsep-konsep tersebut. Hal ini dilakukan agar tersusun suatu pemahaman yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar bagi pembangunan hipotesis.

 

2.2.1    Definisi Konseptual

2.2.1.1 Kerjasama Bilateral

            Kerjasama menurut Soerjono Soekanto merupakan suatu usaha antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Terjadinya kerjasama dilandasi oleh adanya kepentingan yang sama dimana landasan tersebut menjadi pijakan untuk memecahkan berbagai permasalahan secara bersama-sama melalui suatu mekanisme kerjasama. Dalam melakukan suatu kerjasama harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian tugas serta balas jasa yang akan dibawa. Kerjasama dapat terjadi dalam konteks yang berbeda, dimana kebanyakan transaksi dan interaksi kerjasama tersebut terjadi secara langsung diantara negara-negara yang menghadapi masalah atau hal tertentu yang mengandung kepentingan bersama. Masalah kerjasama tersebut terletak pada pencapaian sasaran, sementara itu tujuan akhir yang kemudian dijabarkan ke dalam sasaran-sasaran kerjasama ditentukan oleh persamaan kepentingan yang fundamental dari masing-masing pihak yang melakukan kerjasama.

            Suatu negara berusaha mengadakan hubungan luar negeri dengan negara lain dalam konsep interaksi hubungan kerjasama yang saling menguntungkan karena di dorong oleh kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi sendiri oleh negara tersebut. Bentuk interaksi dan kerjasama yang tidak dapat dibedakan berdasarkan banyaknya pihak yang melakukan hubungan, antara lain dibedakan menjadi hubungan bilateral, trilateral, regional dan multilateral/internasional. Sementara, bentuk hubungannya dapat berupa hubungan ekonomi, sosial, budaya, politik, pertahanan keamanan dan ketenagakerjaan.

            Kusumoharmidjoyo mengartikan hubungan bilateral sebagai suatu bentuk kerjasama diantara kedua negara Negara, baik yang berdekatan secara geografis ataupun yang jauh diseberang lautan dengan sasaran utama untuk menciptakan perdamaian dengan memperhatikan keamanan politik, kebudayaan, dan struktur ekonomi. Hubunga bilateral suatu negara tidak hanya ditentukan oleh faktor kedekatan geografis saja karena jarak bukan lagi hal yang menjadi penghambat dua negara dalam menjalankan kerjasama dikemudian hari.

            Sedangkan hubungan bilateral menurut Didi Krisna adalah keadaan yang menggambarkan adanya hubungan yang saling mempengaruhi atau terjadinya hubungan timbal balik antara dua pihak atau dua negara. Sehingga dalam penelitian ini, pola interaksi hubungan bilateral dalam konteks kerjasama di identifikasikan dengan bentuk kerjasama bilateral karena adkan membahas mengenai kerjasama Indonesia dan Malaysia sebagai obyek yang akan diteliti.

            Kerjasama bilateral adalah bentuk kerjasama ekonomi yang dilakukan antar dua negara[6]. Kerjasama bilateral juga bisa diartikan sebagai bentuk kerjasama yang dilakukan oleh dua negara yang berdaulat dalam rangka mencari penyelesaian bersama terhadap suatu masalah yang menyangkut kedua negara tersebut melalaui perundingan, perjanjian dan sebagainya yang nantinya akan menjadi tempat bagi semua bentuk kerjasma bilateral yang dijalankan. Dalam bentuk kerjasma bilateral, setiap negara terlibat memiliki tujuannya masing-masing.

            Kerjasama bilateral yang berlangsung antara dua negara dirasakan akan penting artinya, karena dalam interaksinya dengan negara lain akan mengacu pada kemampuan dan kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing negara. Oleh karena itu, negara-negara tersebut saling melakukan tukar-menukar barang dan jasa, melakukan perluasan penggunaan teknologi yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik, mengerahkan sumber daya, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Sehingga denganadanya perbedaan tersebut maka kerjasama akan membawa berbagai dampak bagi kedua negara. Dampak yang diharapkan dari dua negara yang menjalin kerjasama tersebut tentunya adalah adanya keuntungan. Kerjasama akan memunculkan kesepakatan bersama berupa ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi bersama oleh negara yang terlibat agar tercipta hubungan yang harmonis.

            Menurut Holsti, dalam melaksanakan kerjasama bilateral terdapat variabel yang dapat diperhitungkan dalam melakukan kerjasama bilateral yang meliputi:

1.     Kualitas dan kuantitas kapabilitas yang dimiliki suatu negara,

2.     Keterampilan mengarahkan kapabilitas tersebut untuk  mendukung berbagai tujuan,

3.     Kredibilitas ancaman dan Interdependensi (Ketergantungan)

4.     Derajat kebutuhan dan Ketergantungan

5.     Responsibiltas di kalangan decision maker (pembuat keputusan)

 

Berdasarkan varibel yang dikemukan oleh Holsti, Indonesia telah memiliki beberapa aspek yang mendukung di dalam melakukan kerjasama dengan negara lain. Dengan memiliki potensi dari geografis dan memiliki sumber daya, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia, Indonesia memiliki peluang dan membutuhkan negara lain untuk melakukan kerjasama.

            Sedangkan menurut Anak Agung Banyu Perwita dan Yayan Mochamad Yani, pola kerjasma bilateral merupakan pola hubungan aksi reaksi yang meliputi proses:

1.     Rangsangan atau kebijakan aktual dari negara yang memprakarsai,

2.     Persepsi dari rangsangan tersebut oleh pembuat keputusan di negara penerima,

3.     Respon atau aksi balik dari negara penerima,

4.     Persepsi atau respon oleh pembuat keputusan dari negara pemprakarsa.

 

Dalam menjalin kerjasama bilateral tersebut, negara-negara yang terlibat biasanya melakukan sebuah perjanjian. Perjanjian adalah kesepakatan uang dibuat oleh pihak atau negara yang terlibat untuk mempererat hubungan antar pihak atau negara tersebut di berbagai bidang.  Perjanjian yang dimaksudkan adalah perjanjian bilateral yang bersifat khusus. Hal tersebut dikarenakan di dlam perjanjian hanya mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan kdua negara saja, sehingga bersifat tertutup.

 

2.2.1.1 Kerjasama Ekonomi Bilateral

            Hubungan ekonomi setidaknya mencakup tiga hubungan, antara lain:

1)     Pertukaran hasil atau output negara satu dengan negara lainnya, Output bisa berupa barang ataupun jasa.

2)     Pertukaran atau aliran sarana produksi (faktor produksi) seperti tenaga kerja, modal, teknologi dan kewirausahaan lainnya. Modal disini juga termasuk penanaman modal asing maupun bantuan luar negeri.

3)     Hubungan utang-piutang (kredit) sebagai konsekuensi dari hubungan perdangangan. Pada asasnya hubungan kredit termasuk semua bantuan luar negeri berupa pinjaman lunak. Namun kredit ini tidak berlaju pada bantuan yang berbentuk hibah.

Selanjutnya dalam tulisan ini, hubungan kerjasama ekonomi yang akan penulis bahas mencakup pada definisi pertama dan kedua, yaitu tentang pertukaran output berupa barang yang nantinya akan diwujudkan melalui perdagangan, pertukaran faktor produksi berupa tenaga kerja (TKI), serta adanya investasi.

 

2.2.2 Definisi Operasional

2.2.2.1 Hubungan Bilateral Indonesia dengan Malaysia

            Hubungan yang terjalin antara Indonesia dan Malaysia merupakan hal yang wajar karena setiap negara saling membutuhkan dengan negara lain, dimana masing-masing negara dalam melakukan hubungan kerjasama mendapatkan keuntungan bagi negaranya. Hubungan bilateral yang terjalin antara Indonesia dan Malaysia salah satunya dalam sektor kelapa sawit. Kelapa sawit menjadi hal yang menarik untuk diangkat menjadi topik karena dengan kelapa sawit ini bisa menimbulkan berbagai kerjasama antara Indonesia dan Malaysia. Bentuk kerjasama antara kedua negara akan diwukudkan dengan adanya perjanjian/MoU dalam sektor kelapa sawit melalui perdagangan dan adanya kesepakatan kedua negara dalam menghadapi isu negatif mengenai kelapa sawit, selain itu adanya kerjasama tenaga kerja di sektor kelapa sawit dan investasi.

Hubungan yang terjalin antara Indonesia dan Malaysia dalam sektor kelapa sawit ini juga berkaitan dengan harga minyak kelapa sawit antara kedua negara bersangkutan. Kenaikan harga kelapa sawit dalam level internasional tidak hanya berpengaruh pada dunia internasional juga, tetapi juga akan menimbulkan dampak bagi negara Indonesia dan Malaysia sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia[7]. Hal tersebut membuktikan bahwa kondisi suatu negara akan dipengaruhi oleh kerja sama negara tersebut dengan negara lainnya.



Kerja Sama Ekonomi Bilateral

Kerja Sama

Kerja Sama Bilateral
                                                          













Hubungan Kerja Sama Ekonomi Bilateral Indonesia dan Malaysia
 

 

 

 

 

 

 

 


2.3       Level Analisis

            Peringkat analisis digunakan untuk mengetahui atau memposisikan diri ke dalam para aktor dan berbagai elemen lainnya yang terlibat dalam hubungan internasional, sehingga bisa memudahkan peneliti untuk menganalisis permasalahanyang sedang diteliti. Berdasarkan identifikasi tingkat analisis yang dikemukakan oleh Mochtar Mas’oed, maka peringkat analisis yang digunakan oleh penelitian ini adalah negara. Penggunaaan level ini dikarenakan penulis melihat dari keadaan dan kepentingan masing-masing negara dalam melakukan hubungan bilateralnya.

 

2.4       Argumen Utama

            Argumen utama yang akan diajukan oleh penulis dalam penelitian ini adalah Indonesia dan Malaysia sama-sama merupakan negara penghasil kelapa sawit yang saling membutuhkan dalam sektor kelapa sawit. Untuk mempertahankan posisi kedua negara sebagai negara eksportir terkuat di dunia dan untuk menghadapi isu-isu yang berkembang terkait dengan industri minyak sawit, maka Indonesia dan Malaysia menjalin kerjasama bilateral dalam berbagai bentuk, yaitu melalui perdagangan, investasi, dan transfer tenaga kerja yang diwujudkan dalambentuk adanya Memorandum of Understanding (MoU).

 

 

 

 

 

 

 


 

                                                                                                                       

BAB III

                                             METODE PENELITIAN

 

Metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam mencapai sasarn ayng diperlukan bagi penggunanya, sehingga dapat memahami obyek sasaran yang dikehendaki dalam upaya mencapai sasaran atau tujuan pemecahan permasalahan[8], sedangkan penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.[9]

3.1  Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif, sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan korelasional. Pendekatan jenis ini bertujuan untuk melihat apakah antara dua variabel atau lebih memiliki hubungan atau korelasi atau tidak.[10] Berangkat dari suatu teori, gagasan para ahli, ataupun pemahaman peneliti  berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan yang diajukan untuk memperoleh pembenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan. Bentuk penelitian kuantitatif penulis gunakan karena untuk mengetahui bagaimana Pengaruh Kerjasama Bilateral Indonesia terhadap Hubungannya Malaysia dalam Sektor Komoditi Kelapa Sawit.

            Dalam peneliitian ini ada dua variabel yaitu sebagai berikut;

b.Independen variabel (X) dalam hal ini adalah Pengaruh Kerjasama Bilateral Indonesia.

c.Dependen variabel (Y) dalam hal ini adalah Hubungan Malaysia.

 

3.2       Rancangan Penelitian

            Bila ditinjau dari penjenisan berdasarkan sifatnya korelasional, dikatakan demikian karena ingin mengetahui hubungan (korelasi) antara dua variabel.[11] Ada dua variabel yang nampak dalam penelitian ini, yaitu “Pengaruh Hubungan Kerjasama Bilateral Indonesia terhadap Hubungannya dengan Malaysia dalam sektor Komoditi Kelapa Sawit”. Identifikasi variabel tersebut meliputi:

a. Pengaruh Kerjasama Bilateral Indonesia, sebagai variable terikat

 b.Hubungan dengan Malaysia, sebagai variable tergantung

 

3.3       Populasi dan Sampel

            Populasi adalah Keseluruhan objek penelitian yang terdiri dari manusia, benda, tumbuh-tumbuhan dan peristiwa sebagai sumber data yang mempunyai karakteristik tertentu dalam sebuah penetian.[12] Suharsimi arikunto mengatakan bahwa populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada  dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya merupakan penelitian  populasi.[13] Sugiyono dalam bukunya yang berjudul “ metode penelitian kuantitatif  kualitatif dan R&D ” memberi pengertian populasi, yaitu wilayah generalisasi  yang terdiri atas: obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakterisitk tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan  kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi  populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain.  Populasi juga bukan sekedar jumlah  yang ada pada obyek atau subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik atau sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu sendiri.[14] Adapun populasi dalam penelitian ini adalah seluruh instansi atau badan yang terkait dalam proses kerjasama tersebut baik dari Indonesia maupun Malaysia sendiri. Sedangkan obyek yang berupa tumbuhan adalah Kelapa Sawit itu sendiri.

 

3.4       Metode Pengumpulan Data

            Dalam sub bahasan ini penulis akan mengemukakan teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data dapat diartikan sebagai cara-cara yang dipergunakan dalam pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang penulis pilih atau yang akan digunakan adalah sebagaimana yang telah dikemukakan  dalam instrument penelitian. Berikut ini penulis akan menguraiakan teknik pengumpulan data dan jenis data yang akan digali. Sedangkan dalam penelitian ini yang digunakan adalah penelitian metode kuantitatif.

 

3.5       Jenis Dan Sumber Data

            Jenis data kuantitatif adalah data yang berhubungan langsung dengan angka-angka atau bilangan.[15]

            Sumber data terdiri dari dua jenis yaitu primer dan sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dari sumber data yang didapat dari berita informasi yaitu situs kementrian luar negeri yang terpercaya. Sedangkan data sekunder adalah data-data yang diperoleh dan digunakan untuk mendukung data, informasi data primer. Adapun data sekunder tersebut adalah dokumen, buku-buku, majalah-majalah, media cetak, koran serta catatan-catatan yang berkaitan dengan judul penelitian ini.

 

3.6       Teknik Pengumpulan Data

            Valid atau tidaknya suatu penelitian tergantung pada jenis pengumpulan data yang dipergunakan untuk pemilihan metode yang tepat sesuai dengan jenis dan sunber data yang dalm pene litian. Tehnik pengumpulan data adalah upaya untuk mengamati variabel yang di teliti antra lain:

a. Metode angket

Metode ini digunakan bila responden jumlahnya besar dapat membaca dengan baik dan dapat mengungkapkan hal-hal yang sifatnya rahasia.[16] Menurut suharsimi arikunto angket adalah suatu daftar isi pertanyaan-pertannyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang ingin diselidiki atau responden.[17] Adapun metode angket yang digunakan oleh penulis adalah:

1)     Kuesioner langsung (angket langsung)

Kuesinoner langsung adalah jika daftar pertannyaan dikirimkan langsung kepada orang yang ingin di mintai pendapat, keyakinannya, atau dimintai menceritakan tentang keadaan dirinya sendiri.[18]

2)     Kuesioner tertutup (angket tertutup)

Kuesioner tertutup adalah pertannyaan-pertannyaan yang  berbentuk dimana responden tinggal memilih jawaban-jawaban yang telah tersedia didalam koesioner itu.[19] Dengan metode angket ini penulis dapat mengetahui apa saja pengaruh kerjasama bilateral Indonesia terhadap hubungannya dengan Malaysia pada isu sektor komoditi kelapa sawit. Penyusunan angket didasarkan atas  sejumlah indicator penelitian. Ada pun bentuk angket terasebut adalah sebagaimana dapat dilihat dalam lampiran.

 

3.7       Instrumen Penelitian

Adapun tujuan dari instrument penelitian ini dapat penulis uraikan sebagai berikut:

a.Variabel X, Pengaruh Kerjasama Bilateral Indonesia

Pada variabel pertama ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh

Kerjsama Indonesia secara bilateral tersebut.

b.Variabel Y, Hubungannya dengan Malaysia

Pada variabel kedua ini bertujuan mengetahui hubungannya dengan Malaysia tersebut setelah adanya kerjasama bilateral oleh Indonesia dalam komoditi kelapa sawit.

Bahan pengumpulan data. Adapun indikator instrumen angket adalah sebagai berikut:

1) Apa saja pengaruh kerjasama bilateral Indonesia terhadap Malaysia

2) Hubungan Indonesia terhadap Malaysia setelah kerjasama tersebut dilakukan

3) Kedua negara ini melakukan kerjasama tersebut dilatarbelakangi oleh isu perdagangan khususnya pada sektor komoditi kelapa sawit.

Angket yang disusun oleh peneliti didasarkan pada hasil penjabaran  variabel penelitian. Pada tiap variabel  baik variabel bebas maupun variabel  tergantung terdiri dari 10 (sepuluh) item pertannyaan yang mana pada tiap item tersebut disediakan alternative jawaban yang antara lain (a dengan skor 3), (b dengan skor 2), (c dengan skor 1). Adapun instrument angket dapat dilihat pada lembaran lampiran.

 

3.8       Teknik Analisis Data

            Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti, melakukan  perhitungan untuk menguji hipotesis yang  telah diajukan. Untuk penelitian yang tidak dirumuskan hipotesis, langkah terakhir tidak dilakukan.Dalam penelitian ini, teknik analisis yang penulis gunakan adalah perhitungan dengan teknik analisis regresi linier sederhana. Regresi linier sederhana adalah untuk mengetahui bagaimanaketergantungan suatu variabel terhadap variabel lain yang diperlukan teknik analisis yang lain.[20]

 

3.9.      Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Berisi latar belakang penelitian, rumusan amaslah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian yang akan dilaksanakan dan bermanfaat peneltian tersebut secara praktis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi landasan teoritis serta konsep yang digunakan dalam menganalisis permasalahan dalam penelitian yang akan dilaksanakan guna mendapatkan pemecahan masalah yang diharapkan, yaitu terdiri dari: studi terdahulu, kerangka konseptual yang meliputi definisi dan definisi operasional, level analisis, alur pikir penelitian, serta argumen utama.

BAB III METODE PENELITIAN

Dalam hal ini terutama dibahas mengenai cara atau metode yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah serta batasan-batasan permaslahan yang ada sehingga penelitian akan terfokus dan tidak melenceng dari fokus yang ditentukan, yaitu terdiri dari: jenis penelitian, fokus penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, lokasi dan sistematika penulisan yang merupakan alur pemikiran dalam melakukan penelitian.

BAB IV GAMBARAN UMUM

Terdiri dari gambaran umum mengenai kelapa sawit sebagai produk unggulan kedua negara serta faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap penawaran dan produksi minyak sawit dalam memenuhi permintaan konsumsi dunia, diantaranya adalah faktor iklim, luas lahan yang tersedia, ketersediaan tenaga kerja, dukungan pemerintah masing-masing negara, gerakan para pemerhati lingkungan, dan pendanaan investasi.

BAB V PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan disajikan mengenai analisis yang lebih mendalam mengenai apa saja bentuk-bentuk kerjasama antara Indonesia dan Malaysia di sektor komoditi kelapa sawit ini yang didukung dengan data-data pendukung yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, berkaitan dengan tujuan penelitiandan sesuai dengan fokus penelitian.

BAB VI PENUTUP

Penutup merupakan bagian terakhir dari penulisan penelitian ini nantinya yang terdiri dari kesimpulan dan saran, dimana kesimpulan digunakan sebagai jawaban penelitian atas permasalahan yang diteliti sekaligus menguji kebenaran hipotesis yang telah penulis ajukan serta saran bagi peneliti selanjutnya dalam mengkaji obyek yang serupa.

 


Daftar Pustaka



Amirman, I. I., & Zainal, A. (1993). Penelitian Dan Statistik Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Anonymous. (2015, Desember 29). Mitra Ogan. Retrieved from Kebutuhan Minyak Nabati Dunia Bergantung Kepada CPO Indonesia: http://www.mitraogan.co.id/index.php/77-from-the-news/279-2020-kebutuhan-minyak-nabati-dunia-bergantung-kepada-cpo-indonesia

Anonymous. (2015, Oktober 26). Serjarah Singkat Hubungan Awal Indonesia-Malaysia. Retrieved from Sejarawan: http://www.sejarawan.com/255-sejarah-singkat-hubungan-awal-indonesia-malaysia.html

Arifin, Z. (2009). Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Lentera Cendikia.

Arikunto, S. (2002). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Arikunto, S. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Imam. (2015, November 25). Pengertian Konsep. Retrieved from Info Kuliah: Tersedia: http://www.kuliah.info/2015/05/konsep-adalah-apa-itu-konsep-ini.html

Irawan, A. Y. (2015). Kerjasama Kelapa Sawit Indonesia – Malaysia Siapa Lebih Diuntungkan. Info Sawit.

Narbuko, C., & Achmadi, A. (1997). Metodologi Penelitian. Jakarta: Bumi Aksara.

Perwita, A. A., & Yani, Y. M. (2005). Pengantar Ilmu Hubungan Internasional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Resito, H. (1992). Pengantar Metodologi Penelitian. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Subagyo, P. J. (1991). Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.

Subana, Rahadi, M., & Sudrajat. (2000). Statistik Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.

Sudijono, A. (2000). Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Sugiyono. (2009). Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Tjahjapriad, C. (n.d.). Dampak Kenaikan Harga Minyak Kelapa Sawit Internasional terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. p. 5.

 

 




[1] Anak Agung Banyu Perwita dan Yanyan Mochamad Yani,2005.Pengantar Ilmu Hubungan Internasional.Bandung:Remaja Rosdakarya.Hal. 3-4
[2]Anonymus Serjarah Singkat Hubungan Awal Indonesia-Malaysia. Diakses dari http://www.sejarawan.com/255-sejarah-singkat-hubungan-awal-indonesia-malaysia.html pada tanggal 26 oktober 2015

[4]Atep Yulianto Irawan. 10 November 2015. Kerjasama  Kelapa Sawit  Indonesia –Malaysia  Siapa  Lebih Diuntungkan. Info Sawit.

[5]Imam. 2015. Pengertian Konsep. Tersedia: http://www.kuliah.info/2015/05/konsep-adalah-apa-itu-konsep-ini.html [Online].  (25 November 2015).
[6]Pratiwi, Ika. 2015. Macam-macam Kerjasama Internasional. Tersedia: http://bangkusekolah.com/2015/06/24/macam-macam-kerjasama-internasional/ [Online]. (25 November 2015).
[7]Cornelius Tjahjapriad. Dampak Kenaikan Harga Minyak Kelapa Sawit Internasional terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Hal. 5.
[8]P. Joko Subagyo, SH. 1991, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta, hlm. 1
[9]  Pendapat Suprapto dalam Cholid Narbuko dan Abu Achmadi. 1997. Metodologi Penelitian Jakarta: Bumi Aksara, hlm. 1-2
[10]Zaenal arifin, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Surabaya : Lentera cendikia, 2009). 17
 
[11]Anas Sudijono, Pengantar Statistik Pendidikan (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2000), 167
[12]Herman Resito, Pengantar Metodologi Penelitian(Jakarta, Gramedia Pustaka Utama:, 1992), 49
[13]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Dan Praktek  (Jakarta: Rineka cipta, 2002),130
[14]Sugiyono, Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D (bandung: alfabeta, 2009), 80
 
[15]Ine I. Amirman Dan Arifin Zainal, Penelitian Dan Statistik Pendidikan ,( Jakarta; Bumi Aksara, 1993), 129.
[16]Sugiyono, Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D, 121
[17]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: Rineka Cipta,2006), 66
[18]Daryanto, Evaluasi Pendidikan (Jakarta : Rineka Cipta, ....), 141
[19]Daryanto, Evaluasi Pendidikan, 143
[20]Subana, moersetyo rahadi, sudrajat, Statistik Pendidikan (Bandung : pustaka setia,2000) h 138

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar