Laporan
simulasi negosiasi
Deskripsi
persiapan
Persiapan kelompok kami
diawali dengan pembentukan grup line agar komunikasi dapat senantiasa berjalan
walaupun masing-masing anggota berada di tempat yang berbeda. Dalam line, kami
menentukan peran yang akan menjadi negosiator pada saat simulasi. Kemudian,
sayalah yang terpilih menjadi negosiator dalam hal pencemaran udara yang ada di
Indonesia dan mewakili Indonesia untuk bernegosiasi dengan pihak Malaysia.
Teman-teman sekelompok
pun membantu untuk memberikan informasi sebanyak mungkin mengenai isu
pencemaran udara tersebut dan tidak lupa pula teman-teman sekelompok membaca
artikel tata tertib simulasi. Saya beserta teman-teman sekelompok memperoleh
informasi berdasarkan berita-berita elektronik actual. Tidak lupa pula, saya
menjaga kesehatan jasmani dan rohani agar dapat tampil prima dalam simulasi
negosiasi.
Pelaksanaan
Pelaksanaan simulasi
terjadi dengan terkejutnya. Hal tersebut dikarenakan asisten dosen yang masuk.
Teman-teman kelas mengira bahwa Bu Melly yang akan memasuki kelas setelah itu,
asisten dosen itu pun langsung memainkan perannya sebagai pemberi nilai. Betapa
terkejutnya teman sekelas bahwa asisten dosen tersebut mengganti tata tertib
yang benar-benar berbeda dari yang ada materi. Adapun isu-isu yang dibahas
adalah pe. Pencemaran udara Indonesia, sengketa TKI Indonesia-Malaysia, dan
pengungsi Rohingya.
1.
Pencemaran udara Indonesia
Pada sesi ini, saya
ditemani oleh salah seorang dari kelompok kami maju ke tengah kelas dan
ditemani oleh lawan negosiasi dengan duduk saling berhadapan. Pada awalnya,
negosiator memberikan pernyataan pembuka terhadap lawan negosiasinya dan
sebaliknya.. Sesi tersebut diberi waktu sampai 3,5 menit. Setelah itu, para
negosiator kembali ke kelompoknya. Hal itu dapat direalisasikan dengan
lingkungan domestiknya. Sesi tersebut diberi waktu sampai 3 menit. Kemudian,
para negosiator dari kedua belah pihak maju ke pojok kanan depan kelas untuk
mendapatkan suatu kesepakatan. Dalam sesi ini, masing-masing negosiator diberi
waktu sampai 3 menit untuk menyampaikan argumentasinya. Setelah itu,
pembicaraaan di depan pojok kanan kelas mendapatkan suatu kesepakatan yang akan
dijelaskan di depan kelas dan dinilai oleh asisten dosennya.
2.
Sengketa TKI Indonesia-Malaysia
Pada sesi ini, Rizky
dan Umay dari kelompok kami maju ke tengah kelas dan ditemani oleh lawan
negosiasi dengan duduk saling berhadapan. Pada awalnya, negosiator memberikan
pernyataan pembuka terhadap lawan negosiasinya dan sebaliknya.. Sesi tersebut
diberi waktu sampai 3,5 menit tetapi waktu ini tidak cukup statis. Hal tersebut
dikarenakan teman-teman sekelas sudah mulai mengerti peraturan simulasi
sehingga apabila diberhentikan pasti teman-teman yang menjadi negosiator
melawannya. Setelah itu, para negosiator kembali ke kelompoknya. Hal itu dapat
direalisasikan dengan lingkungan domestiknya. Sesi tersebut diberi waktu sampai
3 menit. Kemudian, para negosiator dari kedua belah pihak maju ke pojok kanan
depan kelas untuk mendapatkan suatu kesepakatan. Dalam sesi ini, masing-masing
negosiator diberi waktu sampai 3 menit untuk menyampaikan argumentasinya.
Setelah itu, pembicaraaan di depan pojok kanan kelas mendapatkan suatu
kesepakatan yang akan dijelaskan di depan kelas dan dinilai oleh asisten
dosennya.
3.
Pengungsi Rohingya
Pada sesi ini, Aris dan
Madeline dari kelompok kami maju ke tengah kelas dan ditemani oleh lawan
negosiasi dengan duduk saling berhadapan. Kelompok kami cukup beruntung. Hal
tersebut dikarenakan kedua teman sekelompok kami merupakan orang yang berasal
dari Aceh sehingga mereka sangat menguasainya.
Pada awalnya, negosiator memberikan pernyataan pembuka terhadap lawan
negosiasinya dan sebaliknya.. Sesi tersebut diberi waktu sampai 3,5 menit
tetapi waktu ini tidak cukup statis. Hal tersebut dikarenakan teman-teman
sekelas sudah mulai mengerti peraturan simulasi sehingga apabila diberhentikan
pasti teman-teman yang menjadi negosiator melawannya. Pada sesi ketiga waktu
pemberian pernyataan adalah 7 menit. Setelah itu, para negosiator kembali ke
kelompoknya. Hal itu dapat direalisasikan dengan lingkungan domestiknya. Sesi
tersebut diberi waktu sampai 3 menit. Kemudian, para negosiator dari kedua
belah pihak maju ke pojok kanan depan kelas untuk mendapatkan suatu
kesepakatan. Dalam sesi ini, masing-masing negosiator diberi waktu sampai 3
menit untuk menyampaikan argumentasinya. Setelah itu, pembicaraaan di depan
pojok kanan kelas mendapatkan suatu kesepakatan yang akan dijelaskan di depan
kelas dan dinilai oleh asisten dosennya.
Hasil
Skor
yang didapat oleh Indonesia adalah 2500 dan Malaysia adalah 2000. Hal tersebut
memiliki perincian menurut isu yang ada.
1.
Pencemaran udara Indonesia
Hasil
dari kesepakatan negosiasi pencemaran udara Indonesia-Malaysia adalah Indonesia
bersedia menerima bantuan dari Malaysia untuk dapat memadamkan kebakaran yang
ada wilayah Indonesia setelah enam bulan. Apabila Indonesia dalam kurun waktu
enam bulan dapat mengatasi pencemaran udara yang terjadi secara mandiri,
Indonesia tidak memerlukan bantuan dari Malaysia. Sedangkan, apabila Indonesia
tidak dapat mengatasi pencemaran udara
yang terjadi secara mandiri, Indonesia akan meminta bantuan kepada
Negara-negara yang terkena pencemaran udara. Dari hasil ini, asisten dosen
memberi nilai 1000 untuk Indonesia dan 1000 untuk Malaysia.
2.
Sengketa TKI Indonesia-Malaysia
Dalam
negosiasi yang mendalami isu sengketa TKI Indonesia-Malaysia, hasil tidak
didapatkan titik temu sehingga asisten dosen memberi nilai 500 untuk Indonesia
dan 500 untuk Malaysia
3.
Pengungsi Rohingya
Hasil
dari kesepakatan negosiasi pengungsi Rhingya adalah Indonesia dan Malaysia
membagi dua jumlah pengungsi Rohingya yang dapat masuk ke dalam wilayah
kedaulatannya. Dar hasil ini, asisten dosen memberi nilai 1000 untuk Indonesia
dan 500 untuk Malaysia
Evaluasi
Menurut
penulis, simulasi negosiasi yang terjadi itu kurang realistis. Hal tersebut
dikarenakan waktu yang diberikan sangatlah singkat. Penulis mengasumsikan bahwa
negosiasi yang sebenarnya tidak mungkin sesebentar simulasi tersebut.
Walaupun.asisten dosen mengatakan bahwa waktu yang singkat tersebut bertujuan
untuk berpikir yang cepat dan sistematis.
Penulis
menyimpulkan bahwa proses simulasi yang terjadi benar-benar memakai taktik
negosiasi diantaranya
1.
Pencemaran udara Indonesia
Kelompok
penulis memakai taktik intruisive-aggressive. Hal tersebut dikarenakan kelompok
penulis lebih mengedepankan perasaan bersalah Negara lain (sebagai permisalan)
yang telah memberikan bantuan tetapi tidak digunakan. Sedangkan kelompok
Malaysia menggunakan taktik high ball dan low ball. Hal tersebut dikarenakan
hanya ada satu yang benar-benar aktif dan yang lainnya diam.
2.
Sengketa TKI Indonesia-Malaysia
Kelompok
penulis memakai taktik snow job. Hal tersebut dikarenakan kelompok kami
memberikan segala informasi secara keseluruhan sehingga pihak lawan bingung dan
tak berkutik. Sedangkan, pihak lawan memakai taktik low ball dan high ball. Hal
tersebut dikarenakan terdapat satu actor yang aktif dan actor yang lain kurang
aktif
3.
Pengungsi Rohingya
Kelompok
penulis memakai taktik snow job. Hal tersebut dikarenakan kelompok kami
memberikan segala informasi secara keseluruhan sehingga pihak lawan bingung dan
tak berkutik. Sedangkan, pihak lawan memakai taktik low ball dan high ball. Hal
tersebut dikarenakan terdapat satu actor yang aktif dan actor yang lain kurang aktif
Kemudian,
simulasi yang digunakan menggunakan teori two level game Robert T. Putnam.






0 komentar:
Posting Komentar