APAPUN ADA DI SINI

ABIEEZZZ TDUWWRRR QOUWWHH TYYUUUZZSSHH MNNDDDIIIEEEHH TDAKQ YUPA MNGGOZZSSSOOKKQQ GIEYGIEYH

SALJU

DAUN

kursor

RSS
Home » ANALISIS DESKRIPTIF KUALITATIF TENTANG PERBANDINGAN EKSPOR INDONESIA DAN MALAYSIA DALAM KOMODITI KELAPA SAWIT DI LINGKUNGAN INTERNASIONAL PADA TAHUN 2008-2012

ANALISIS DESKRIPTIF KUALITATIF TENTANG PERBANDINGAN EKSPOR INDONESIA DAN MALAYSIA DALAM KOMODITI KELAPA SAWIT DI LINGKUNGAN INTERNASIONAL PADA TAHUN 2008-2012


ANALISIS DESKRIPTIF KUALITATIF TENTANG PERBANDINGAN EKSPOR INDONESIA DAN MALAYSIA DALAM KOMODITI KELAPA SAWIT DI LINGKUNGAN INTERNASIONAL PADA TAHUN 2008-2012

PROPOSAL PENELITIAN

DisusunUntuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Memperoleh Nilai dalam Mata Kuliah Metode Penelitian Sosial

Dosen Pengampu : Mondry S. Sos., M. Si.

Disusunoleh :

AndhitaAgustianaHindrawati            145120407111003     

Caterine Mega Putri                          145120401111065

DhannyPratamaKusuma Jaya 145120407111048

FebriDwiansyahArmadani                145120401111031

Madeline K. Jahamou                        145120400111052

 


 

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

2015

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.     1. Latar Belakang

Presiden Jokowi menetapkan fokus utama kebijkakannya ke dalam poros maritim. Hal tersebut dapat diartikan bahwa kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan akan mengutamakan kepentingan maritime dibanding dengan aspek lain. Sebagai permisalan, Indonesia membeli pesawat Drown untuk dapat memantau seluruh maritim yang ada di Indonesia.Tidak hanya itu, Indonesia juga telah membeli kapal-kapal untuk lebih mengefektifkan penjagaan maritim yang ada di Indonesia.Hal tersebut dikarenakan agar memberi pengawasan terhadap kapal-kapal asing yang telah memanfaatkan maritime Indonesia untuk kepentingan mereka saja.Sebagai contoh, mereka mengambil ikan-ikan yang ada di maritim Indonesia.Adapun kapal-kapal asing yang dimaksud adalah kapal milik Vietnam, Thailand, Papua Nugini, Filiphina, dan Timor Leste.Kemudian, perlu diketahui bahwa terdapat sesuatu untuk menggerakkan alat-alat maritime tersebut.Energi adalah jawabannya.

Pada zaman sekarang, energi sangat diperlukan oleh negara-negara yang ada di dunia.Cina adalah salah satu contohnya. Cina memprediksikan bahwa Cina akan mengalami krisis energi dalam jangka panjang. Maka dari itu, Cina mengklaim Laut Cina Selatan adalah teritorinya (Hasnim, 2008).Hal tersebut dikarenakan Laut Cina Selatan memiliki potensi minyak bumi yang sangat besar.

Energi juga dapat menimbulkan konflik yang berkepanjangan.Kawasan Timur Tengah adalah salah satu permisalannya.Terdapat suatu pulau di kawasan di Timur Tengah yang memiliki potensi energi, yaitu minyak bumi, yang cukup besar.Sayangnya, pulau tersebut berada di perbatasan dua negara.Hal tersebut menyebabkan kedua negara saling mengklaim bahwa pulau tersebut adalah miliknya sehingga kedua negara tersebut memiliki konflik antara satu dengan lainnya.

Energi juga dapat membuat suatu negara menjadi kaya.Qatar adalah contohnya.Qatar memiliki sumber energi, yakni minyak bumi, yang sangat berlimpah.Terlebih lagi, harga minyak bumi yang melonjak naik. Hal tersebut menyebabkan Qatar memiliki cadangan devisa Negara yang melimpah sehingga Qatar dapat dikategorikan sebagai negara kaya.

Energi tidak selalu diidentifikasikan dengan minyak bumi.Terdapat banyak sumber energi yang ada di dunia.Kelapa sawit adalah salah satunya.Menurut (Anonymous, 2007), Kelapa Sawit terdiri daripada dua spesies Arecaceae atau famili palmayang digunakan untuk pertanian komersil dalam pengeluaran minyak kelapa sawit. Dalam perkembangannya, kelapa sawit terbagi menjadi dua macam yaitu Kelapa Sawit Afrika, Elaeis guineensis, berasal dari Afrika barat di antara Angola dan Gambia dan Kelapa Sawit Amerika, Elaeis oleifera, berasal dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Kelapa sawit termasuk tumbuhan pohon.Tingginya dapat mencapai 24 meter.Bunga dan buahnya berupa tandan, serta bercabang banyak.Buahnya kecil dan apabila masak, berwarna merah kehitaman.Daging buahnya padat.Daging dan kulit buahnya mengandung minyak.Minyak sawit merupakan minyak nabati yang berasal dari buah kelapa sawit, serta banyak digunakan untuk konsumsi makanan maupun non-makanan.Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin.(Anonymous, 2007)

Menurut (Tjahjaprijadi), Permintaan minyak sawit dalam beberapa tahun belakangan ini terus meningkat bersamaan dengan banyaknya negara maju yang telah beralih dari menggunakan lemak-trans kepada alternatif yang lebih sehat. Produk minyak sawit sering digunakan sebagai pengganti lemak-trans karena minyak sawit merupakan salah satu lemak nabati sangat jenuh, dan harganya relatif murah.Transaksi perdagangan minyak sawit dunia meningkat signifikan dikarenakan naiknya permintaan dunia. Perkembangan industri minyak goreng sawit dari awal tahun 90-an hingga sekarang mengalami peningkatan sejalan dengan beralihnya pola konsumsi masyarakat dari minyak goreng kelapa ke minyak goreng kelapa sawit.

Hampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak, khususnya sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam.Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.Berarti dapat diketahui bahwa hampir semua yang ada di kelapa sawit dapat dimanfaatkan sehingga mayoritas negara yang ada di duniapun membutuhkannya.Hal tersebut menyebabkan adanya jual beli kelapa sawit internasional.Dalam jual beli kelapa sawit internasional, Indonesia dan Malaysia mempunyai pengaruh yang dominan di pasar internasional.Hal tersebut dikarenakan Indonesia merupakan Negara ekspor kelapa sawit terbesar di dunia.Kemudian, Malaysia merupakan Negara ekspor kelapa sawit terbesar kedua setelah Indonesia.

Menurut (Hagi, Hadi, & Tety), Indonesia mempunyai keunggulan komparatif (comparative advantage) sebagai negara agraris dan maritim.Keunggulan komparatif tersebut merupakan dasar perekonomian yang perlu didayagunakan melalui pembangunan ekonomi sehingga menjadi keunggulan bersaing (competitive advantage).Salah satu potensi Indonesia sebagai negara agraris adalah banyaknya masyarakat yang bekerja pada sektor pertanian.Salah satu sektor pertanian yang menjadi keunggulan Indonesia adalah sektor perkebunan khususnya komoditi kelapa sawit.

Indonesia dikenal sebagai penghasil produk-produk hulu pertanian, yang mencakup sektor perkebunan, hortikultura dan perikanan (Indonesia belum mampu berbicara banyak di tingkat internasional).Potensi alam Indonesia memungkinkan pengembangan ke semua sektor tersebut.Khusus pada sektor perkebunan, telah dikenal komoditas-komoditas seperti karet alam, lada, kopi robusta, teh, kakao, jambu mete dan kelapa sawit sebagai komoditas eksporandalan Indonesia.

Menurut (Ermawati & Saptia, 2013), Kelapa sawit merupakan tanaman perkebunan yang mengalami pertumbuhan produksi yang cukup pesat dibandingkan dengan tanaman perkebunan lainnya di Indonesia.Kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) merupakan komoditas yang dalam beberapa tahun terakhir ini menjadi primadona di sektor perkebunan dengan dibukakannya peluang investasi sebesar-besarnya oleh pemerintah baik dari pemodal asing maupun domestik.

Kelapa sawit merupakan komoditas unggulan ekspor Indonesia mengingat devisa yang didapat dan potensi pengembangannya sangat menjanjikan. Minyak dari kelapa sawit dapat dipergunakan untuk bahan makanan dan industry melalui proses penyulingan, penjernihan dan penghilangan bau atau RBDPO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil). Kelapa sawit dapat diuraikan untuk produksi minyak sawit padat (RBD Stearin) dan untuk produksi minyak sawit cair (RBD Olein).RBD Olein merupakan bahan utama dalam pembuatan minyak goreng.Minyak goreng termasuk kebutuhan pokok konsumsi masyarakat sehari-hari.

Menurut (Ermawati & Saptia, 2013), Kelapa sawit yang diproduksi di Indonesia sebagian kecil dikonsumsi di dalam negeri sebagai bahan mentah dalam pembuatan minyak goreng, oleochemical, sabun, margarine, dan sebagian besar lainnya diekspor dalam bentuk minyak sawit atau Crude Palm Oil (CPO) dan minyak inti sawit atau Palm Kernel Oil (PKO).

Menurut (Bachtiar, 2010)Crude Palm Oil (CPO) merupakan salah satu komoditas strategis dalam perekonomian Indonesia. Ada tiga alasan yang dapat menjelaskan pernyataan tersebut, yaitu: pertama, sebagai bahan utama minyak minyak goreng yang dikonsumsi oleh masyarakat, CPO berperan penting dalam menentukan tingkat inflasi; kedua, industri palm oil dapat menyerap tenaga kerja lebih dari dua juta orang; ketiga, ekspor CPO merupakan sumber devisa negara yang dapat menghasilkan lebih dari satu juta USD sejak tahun 1997 hingga kini.

Menurut (Tjahjaprijadi), Kelapa sawit merupakan tanaman yang menghasilkan minyak sawit, serta sebagai salah satu primadona tanaman perkebunan yang menjadi sumber penghasil devisa non migas bagi perekonomian Indonesia. Prospek komoditi minyak kelapa sawit dalam perdagangan minyak nabati dunia sangat cerah sehingga mendorong pemerintah untuk memacu pengembangan areal perkebunan kelapa sawit.Perkembangan subsektor perkebunan kelapa sawit tidak lepas dari peranan regulasi pemerintah yang memberikan berbagai insentif, terutama dalam hal perijinan dan subsidi investasi untuk pembangunan perkebunan rakyat dengan pola PIRBun serta dalam pembukaan lahan baru bagi perkebunan besar swasta.

Pemenuhan kebutuhan minyak goreng sawit dalam negeri berhubungan dengan sejauh mana industri minyak goreng domestik tumbuh, baik secara kapasitas produksi maupun penyebarannya.Selama ini, industri minyak goring sawit dalam negeri masih terpusat di pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan.

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas perkebunan penyumbang devisa negara dan juga banyak menyerap tenaga kerja. Selain itu, peranannya membantu perekonomian Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun dilihat dari perkembangan ekspor minyak sawit.Perkembangan ekspor komoditas ini tidak terlepas dari semakin tingginya tingkat produktivitas.Dengan tingkat produksi kelapa sawit yang cukup tinggi maka tidaklah mengherankan jika Indonesia menjadi salah satu negara penghasil minyak kelapa sawit terbesar di dunia(Ermawati & Saptia, 2013).

Menurut (Munadi, 2007), Minyak kelapa sawit merupakan salah satu komoditi yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia.  Pentingnya kelapa sawit bagiekonomi Indonesia bukan saja disebabkan karena kelapa sawit merupakan salah satu sumber pendapatan devisa negara tetapi kelapa sawit juga merupakan sumber makanan bagi rakyat Indonesia yaitu sebagai bahan baku industri minyak goreng.

Menurut (Tjahjaprijadi), di pasar internasional, harga komoditas minyak sawit telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik Kondisi ini didukung oleh tumbuhnya Peneliti pada Pusat Kebijakan Ekonomi Makro, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan sejumlah perusahaan minyak sawit di dalam negeri yang memberi kontribusi besar terhadap produksi minyak sawit nasional.

Tingginya produksi minyak sawit Indonesia merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan dan dikembangkan di era globalisasi ini melalui penanganan serius, bukan saja oleh Pemerintah (pusat, provinsi dan kabupaten/kota) tetapi yang lebih penting lagi melalui sinergi kekuatan yang ada di masyarakat, sehingga Indonesia dapat berdaya saing dibandingkan pesaing utamanya yaitu Malaysia pada tahun yang akan datang.

Menurut (Hagi, Hadi, & Tety), negara pesaing utama minyak sawit Indonesia adalah Malaysia.Bahkan, produksi dan mutu minyak sawit Malaysia lebih baik. Namun, perkembangan ekspor minyak sawit Malaysia diperkirakan akan tertahan oleh adanya keterbatasan sumberdaya lahan dan tingginya tingkat upah pekerja. Sedangkan, Indonesia masih mempunyai potensi untuk berkembang karena dukungan lahan potensial yang masih tersedia dan masih terdapat peluang untuk peningkatan produktivitas.Namun, Indonesia juga menghadapi kendala dalam pengembangan ekspor karena kurangnya dukungan supporting industries, yaitu industri jasa (pelabuhan, transportasi, lembaga penelitian) dan industri logistik (pupuk, bahan kimia, alat berat).Sementara itu, Malaysia pun tidak berdiam diri dan terus meningkatkan produktivitas kebunnya, di samping mereka mengembangkan dengan sungguh-sungguh industri produk turunan minyak sawit yang bernilai lebih tinggi.

Persaingan antara Indonesia dengan Malaysia dalam hal komoditi kelapa sawit begitu banyak untuk dikaji.Maka dari itu, penulis lebih memfokuskan penelitian in ke bidang ekspor Indonesia dan Malaysia dalam komoditi kelapa sawit.Hal tersebut dikarenakan ekspor merupakan suatu hal yang penting bagi suatu negara. Terlebih lagi, ekspor dapat mempengaruhi cadangan devisa negara.

 

1.     2. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang ada di dalam karya tulis ini adalah “Bagaimana analisis deskriptif kualitatif tentang perbandingan ekspor Indonesia dan Malaysia dadlam komoditi kelapa sawit di lingkungan internasional tahun 2008-2012?”

 

1.     3. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai setelah penelitian ini selesai adalah sebagai berikut :

1.      Untuk mengetahui ekspor Indonesia dan Malaysia dalam komoditi kelapa sawit di lingkungan internasional  tahun 2008-2012

2.     Untuk mengetahui factor yang menyebabkan ekspor Indonesia dan Malaysia menjadi ekspor terbesar di dunia

1.     4. Manfaat penelitian

Adapun manfaat dari penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu manfaat akademis dan manfaat praktis.

1.     Manfaat Akademis

·       Dapat memberikan wawasan dan pengetahuan tentang analisis deskriptif kualitatif tentang perbandingan ekspor Indonesia dan Malaysia dalam komoditi kelapa sawit di lingkungan internasional tahun 2008-2012

·       Dapat memberikan jawaban atas rumusan masalah yang dibahas dalam penelitian ini

2.     Manfaat Praktis

·       Memberikan pengalaman penulis untuk menulis suatu karya tulis yang terstruktur

·       Mengasah kemampuan penulis dalam kerja kelompok

·       Mengasah kemampuan penulis untuk menulis dengan dasar teori yang ada

·       Mengasah kemampuan penulis untuk memimpin di suatu kelompok

·       Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan

·       Menjadi informasi bagi para pembacanya

                                                                           BAB II

                                                TINJAUAN PUSTAKA

 

2.1       Studi Terdahulu

a.     Hagi, Syaiful Hadi, dan Ermi Tety. Analisis Daya Saing Ekspor Minyak Sawit Indonesia dan Malaysia di Pasar Internasional Selama Periode 1995-2009.

Penelitian ini menggunakan analisis daya saing sebagai konsep yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan Constant Market Share (CMS) dan analisis Revealed Comparataive Advantage (RCA). CMS digunakan untuk mengukur dinamika tingkat daya saing ekspor, sehingga dapat diketahui apakah ekspor suatu komoditas mengalami peningkatan atau penurunan, sedangkan nilai RCA merupakan gambaran dari kinerja ekspor suatu komoditi.

Dalam penelitian tersebut diketahui bahwa dinamika tingkat daya saing Indonesia dan Malaysia telah mengalami peningkatan yang signifikan dalam ekspor dan pangsa pasar minyak sawit di dunia terutama di benua Asia dan Eropa.Minyak sawit Indonesia lebih berdaya saing dibandingkan dengan minyak sawit Malaysia di Benua Asia.Hal tersebut dikarenakan Indonesia memiliki perbedaan harga mencapai 5 US$ untuk setiap ton dengan harga minyak sawit di Malaysia yang lebih tinggi. Sedangkan minyak kelapa sawit Malaysia lebih berdaya saingdibandingkan dengan minyak sawit Indonesia di benua Eropa karena standarisasi mutu minyak sawit Indonesia masih belum memenuhi standarisasi Eropa, seperti pencantuman kandungan kadar logam dalam klasifikasi mutu minyak sawit yang diekspor. Faktor lainnya adalah adanya kampanye negatif dari beberapa LSM di negara-negara Eropa.

Penelitian ini juga menyebutkan bahwa Indonesia dan Malaysiamerupakan negara eksportir minyak sawit yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata indeks spesialisasi perdagangan kedua negara yang menunjukkan nilai yang positif.Penelitian ini digunakan oleh peneliti sebagai acuan dalam menentukan dan memberikan informasi kepada peneliti untuk membatasi obyek penelitian, yaitu Indonesia dan Malaysia.

b.     Anton Purnomo, Analisis Keterpaduan Pasar Internasional Minyak Kelapa Sawit (1986-1992).

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keberagaman produksi dan perdagangan minyak kelapa sawit pada negara Indonesia, Malaysia dan Belanda serta menelaah keterpaduan pasar minyak kelapa sawit dengan melihat secara khusus.Memperkirakan juga harga minyak kelapa sawit Indonesia dan menelaah strategi pemasaran yang perlu diterapkan oleh Indonesia dalam pasar minyak kelapa sawit.

Berdasarkan analisis keterpaduan pasar minyak kelapa sawit dengan menggunakan metode Model Vektor Autoregresi (VAR).Anton menyimpulkan bahwa untuk jenis CPO dan RBD Olein, pasar Rotterdam (Belanda) merupakan pemimpin pasar bagi Indonesia, sedangkan Malaysia tidak terhubung sama sekali dengan pasar Rotterdam dan Indonesia. Dan untuk jenis RBD Stearin, tidak ada satu pasar yang menjadi pemimpin.Walaupun penelitian ini sudah berlangsung lama bebarapa tahun yang lalu, tetapi bisa menjadi referensi penulis untuk melihat kondisi sejarah kelapa sawit di Indonesia, Malaysia dan Belanda.

Dari paparan hasil studi pendahuluan di atas, digunakan peneliti sebagai referensi untuk membahas lebih lanjut mengenai bentuk kerjasama bilateral antara Indonesia dan Malaysia.Fokus penelitian ini lebih ditujukan melalui sektor kelapa sawit karena mengingat bahwa Indonesia dan Malaysia merupakan negara penghasil kelapa sawit terbesar di dunia.

Pembanding
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Hagi, Syaiful Hadi, dan Ermi Tety. Analisis Daya Saing Ekspor Minyak Sawit Indonesia dan Malaysia di Pasar Internasional Selama Periode 1995-2009.
Anton Purnomo, Analisis Keterpaduan Pasar Internasional Minyak Kelapa Sawit (1986-1992).
Peneliti
Pendekatan atau metode
pendekatan Constant Market Share (CMS) dan analisis Revealed Comparataive Advantage(RCA)
metode Model Vektor Autoregresi (VAR)
Pendekatan korelasional
Jenis
Kuantitatif
Kualitatif
Kualitatif
Hasil
Indonesia dan Malaysiamerupakan negara eksportir minyak sawit yang ditunjukkan dengan nilai rata-rata indeks spesialisasi perdagangan kedua negara yang menunjukkan nilai yang positif
bentuk kerjasama bilateral antara Indonesia dan Malaysia dalam sektor kelapa sawit
 

 

2.2       Kerangka Konseptual

Konsep ialah suatu ide atau gambaran mental, yang dinyatakan dalam suatu kata atau simbol[1]. Penyusunan kerangka konseptual dimaksudkan untuk mengeksplorasi dan memunculkan konsep-konsep yang relevan dalam setiap variabel yang diamati sekaligus menghubungkan konsep-konsep tersebut.Hal ini dilakukan agar tersusun suatu pemahaman yang dapat dijadikan sebagai bahan dasar bagi penentuan fokus penelitian.

2.2.1    Definisi Konseptual

2.2.1.1 Kerjasama Bilateral

            Kerjasama menurut Soerjono Soekanto merupakan suatu usaha antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Terjadinya kerjasama dilandasi oleh adanya kepentingan yang sama dimana landasan tersebut menjadi pijakan untuk memecahkan berbagai permasalahan secara bersama-sama melalui suatu mekanisme kerjasama. Dalam melakukan suatu kerjasama harus ada iklim yang menyenangkan dalam pembagian tugas serta balas jasa yang akan dibawa. Kerjasama dapat terjadi dalam konteks yang berbeda, dimana kebanyakan transaksi dan interaksi kerjasama tersebut terjadi secara langsung diantara negara-negara yang menghadapi masalah atau hal tertentu yang mengandung kepentingan bersama.Masalah kerjasama tersebut terletak pada pencapaian sasaran, sementara itu tujuan akhir yang kemudian dijabarkan ke dalam sasaran-sasaran kerjasama ditentukan oleh persamaan kepentingan yang fundamental dari masing-masing pihak yang melakukan kerjasama.

            Suatu negara berusaha mengadakan hubungan luar negeri dengan negara lain dalam konsep interaksi hubungan kerjasama yang saling menguntungkan karena di dorong oleh kebutuhan dan keinginan yang tidak dapat dipenuhi sendiri oleh negara tersebut. Bentuk interaksi dan kerjasama yang tidak dapat dibedakan berdasarkan banyaknya pihak yang melakukan hubungan, antara lain dibedakan menjadi hubungan bilateral, trilateral, regional dan multilateral/internasional. Sementara, bentuk hubungannya dapat berupa hubungan ekonomi, sosial, budaya, politik, pertahanan keamanan dan ketenagakerjaan.

            Kusumoharmidjoyo mengartikan hubungan bilateral sebagai suatu bentuk kerjasama diantara kedua negara Negara, baik yang berdekatan secara geografis ataupun yang jauh diseberang lautan dengan sasaran utama untuk menciptakan perdamaian dengan memperhatikan keamanan politik, kebudayaan, dan struktur ekonomi.Hubunga bilateral suatu negara tidak hanya ditentukan oleh faktor kedekatan geografis saja karena jarak bukan lagi hal yang menjadi penghambat dua negara dalam menjalankan kerjasama dikemudian hari.

            Sedangkan hubungan bilateral menurut Didi Krisna adalah keadaan yang menggambarkan adanya hubungan yang saling mempengaruhi atau terjadinya hubungan timbal balik antara dua pihak atau dua negara. Sehingga dalam penelitian ini, pola interaksi hubungan bilateral dalam konteks kerjasama di identifikasikan dengan bentuk kerjasama bilateral karena adkan membahas mengenai kerjasama Indonesia dan Malaysia sebagai obyek yang akan diteliti.

            Kerjasama bilateral adalah bentuk kerjasama ekonomi yang dilakukan antar dua negara[2].Kerjasama bilateral juga bisa diartikan sebagai bentuk kerjasama yang dilakukan oleh dua negara yang berdaulat dalam rangka mencari penyelesaian bersama terhadap suatu masalah yang menyangkut kedua negara tersebut melalaui perundingan, perjanjian dan sebagainya yang nantinya akan menjadi tempat bagi semua bentuk kerjasma bilateral yang dijalankan. Dalam bentuk kerjasma bilateral, setiap negara terlibat memiliki tujuannya masing-masing.

            Kerjasama bilateral yang berlangsung antara dua negara dirasakan akan penting artinya, karena dalam interaksinya dengan negara lain akan mengacu pada kemampuan dan kekurangan yang dimiliki oleh masing-masing negara. Oleh karena itu, negara-negara tersebut saling melakukan tukar-menukar barang dan jasa, melakukan perluasan penggunaan teknologi yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi domestik, mengerahkan sumber daya, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Sehingga denganadanya perbedaan tersebut maka kerjasama akan membawa berbagai dampak bagi kedua negara. Dampak yang diharapkan dari dua negara yang menjalin kerjasama tersebut tentunya adalah adanya keuntungan. Kerjasama akan memunculkan kesepakatan bersama berupa ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi bersama oleh negara yang terlibat agar tercipta hubungan yang harmonis.

            Menurut Holsti, dalam melaksanakan kerjasama bilateral terdapat variabel yang dapat diperhitungkan dalam melakukan kerjasama bilateral yang meliputi:

1.     Kualitas dan kuantitas kapabilitas yang dimiliki suatu negara,

2.     Keterampilan mengarahkan kapabilitas tersebut untuk  mendukung berbagai tujuan,

3.     Kredibilitas ancaman dan Interdependensi (Ketergantungan)

4.     Derajat kebutuhan dan Ketergantungan

5.     Responsibiltas di kalangan decision maker (pembuat keputusan)

 

Berdasarkan varibel yang dikemukan oleh Holsti, Indonesia telah memiliki beberapa aspek yang mendukung di dalam melakukan kerjasama dengan negara lain. Dengan memiliki potensi dari geografis dan memiliki sumber daya, baik itu sumber daya alam maupun sumber daya manusia, Indonesia memiliki peluang dan membutuhkan negara lain untuk melakukan kerjasama.

            Sedangkan menurut Anak Agung Banyu Perwita dan Yayan Mochamad Yani, pola kerjasma bilateral merupakan pola hubungan aksi reaksi yang meliputi proses:

1.     Rangsangan atau kebijakan aktual dari negara yang memprakarsai,

2.     Persepsi dari rangsangan tersebut oleh pembuat keputusan di negara penerima,

3.     Respon atau aksi balik dari negara penerima,

4.     Persepsi atau respon oleh pembuat keputusan dari negara pemprakarsa.

 

Dalam menjalin kerjasama bilateral tersebut, negara-negara yang terlibat biasanya melakukan sebuah perjanjian.Perjanjian adalah kesepakatan uang dibuat oleh pihak atau negara yang terlibat untuk mempererat hubungan antar pihak atau negara tersebut di berbagai bidang.Perjanjian yang dimaksudkan adalah perjanjian bilateral yang bersifat khusus.Hal tersebut dikarenakan di dlam perjanjian hanya mengatur hal-hal yang menyangkut kepentingan kdua negara saja, sehingga bersifat tertutup.

 

2.2.1.1 Kerjasama Ekonomi Bilateral

            Hubungan ekonomi setidaknya mencakup tiga hubungan, antara lain:

1)     Pertukaran hasil atau output negara satu dengan negara lainnya, Output bisa berupa barang ataupun jasa.

2)     Pertukaran atau aliran sarana produksi (faktor produksi) seperti tenaga kerja, modal, teknologi dan kewirausahaan lainnya. Modal disini juga termasuk penanaman modal asing maupun bantuan luar negeri.

3)     Hubungan utang-piutang (kredit) sebagai konsekuensi dari hubungan perdangangan. Pada asasnya hubungan kredit termasuk semua bantuan luar negeri berupa pinjaman lunak. Namun kredit ini tidak berlaju pada bantuan yang berbentuk hibah.

Selanjutnya dalam tulisan ini, hubungan kerjasama ekonomi yang akan penulis bahas mencakup pada definisi pertama dan kedua, yaitu tentang pertukaran output berupa barang yang nantinya akan diwujudkan melalui perdagangan, pertukaran faktor produksi berupa tenaga kerja (TKI), serta adanya investasi.

2.2.2 Definisi Operasional

2.2.2.1 Hubungan Bilateral Indonesia dengan Malaysia

            Hubungan bilateral merupakan hal yang wajar terjadi antara negara-negara di dunia. Begitu pula dengan hubunagn kerja sama bilateral yang terjalin antara Indonesia dan Malaysia merupakan hal yang wajar karena setiap negara saling membutuhkan dengan negara lain, dimana masing-masing negara dalam melakukan hubungan kerjasama mendapatkan keuntungan bagi negaranya. Hubungan bilateral yang terjalin antara Indonesia dan Malaysia salah satunya dalam sektor kelapa sawit.Kelapa sawit menjadi hal yang menarik untuk diangkat menjadi topik karena dengan kelapa sawit ini bisa menimbulkan berbagai kerjasama antara Indonesia dan Malaysia. Bentuk kerjasama antara kedua negara akan diwukudkan dengan adanya perjanjian/MoU dalam sektor kelapa sawit melalui perdagangan dan adanya kesepakatan kedua negara dalam menghadapi isu negatif mengenai kelapa sawit, selain itu adanya kerjasama tenaga kerja di sektor kelapa sawit dan investasi.

            Hubungan yang terjalin antara Indonesia dan Malaysia dalam sektor kelapa sawit ini juga berkaitan dengan harga minyak kelapa sawit antara kedua negara bersangkutan. Kenaikan harga kelapa sawit dalam level internasional tidak hanya berpengaruh pada dunia internasional juga, tetapi juga akan menimbulkan dampak bagi negara Indonesia dan Malaysia sebagai penghasil kelapa sawit terbesar di dunia[3]. Hal tersebut membuktikan bahwa kondisi suatu negara akan dipengaruhi oleh kerja sama negara tersebut dengan negara lainnya.

Text Box: Kerja Sama Ekonomi BilateralText Box: Kerja SamaText Box: Kerja Sama Bilateral                                                          


Text Box: Hubungan Kerja Sama Ekonomi Bilateral Indonesia dan Malaysia
 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


2.3       Level Analisis

            Peringkat analisis digunakan untuk mengetahui atau memposisikan diri ke dalam para aktor dan berbagai elemen lainnya yang terlibat dalam hubungan internasional, sehingga bisa memudahkan peneliti untuk menganalisis permasalahanyang sedang diteliti.Berdasarkan identifikasi tingkat analisis yang dikemukakan oleh Mochtar Mas’oed, maka peringkat analisis yang digunakan oleh penelitian ini adalah negara. Penggunaaan level ini dikarenakan penulis melihat dari keadaan dan kepentingan masing-masing negara dalam melakukan hubungan bilateralnya.

 

2.4       Argumen Utama

            Argumen utama yang akan diajukan oleh penulis dalam penelitian ini adalah Indonesia dan Malaysia sama-sama merupakan negara penghasil kelapa sawit yang saling membutuhkan dalam sektor kelapa sawit. Untuk mempertahankan posisi kedua negara sebagai negara eksportir terkuat di dunia dan untuk menghadapi isu-isu yang berkembang terkait dengan industri minyak sawit, maka Indonesia dan Malaysia menjalin kerjasama bilateral dalam berbagai bentuk, yaitu melalui perdagangan, investasi, dan transfer tenaga kerja yang diwujudkan dalambentuk adanya Memorandum of Understanding (MoU).

 

 

 

                                                            BAB III

                                                METODE PENELITIAN

 

            Metode merupakan jalan yang berkaitan dengan cara kerja dalam mencapai sasaran yang diperlukan bagi penggunanya sehingga dapat memahami obyek sasaran yang dikehendaki dalam upaya mencapai sasaran atau tujuan pemecahan permasalahan, sedangkan penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.

 

3.1       Jenis Penelitian

            Jenis penelitian yang akan digunakan oleh penulis adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif sendiri adalah penelitian yang bertujuan untuk memahami gejala-gejala yang tidak mungkin diukur secara tepat.Penelitian kualitatif adalah penelitian yang tidak mengadakan perhitungan. Penelitian kualitatif ini masuk penelitian alamiah (naturalistic inquiry) yang memerlukan manusia sebagai instrument, terkait muatan yang sarat dalam lingkup yang akan diamati dan penelitian alam selalu menghasilkan sesuatu yang cukup logis dan setting alam. Penelitian kualitatif ini antara lain meliputi etnografi, fenomenologi, studi kasus dan studi eksplorasi.

 

3.2       Pola Penelitian

            Pola penelitian yang penulis gunakan adalah pola penelitian deskriptif.Pengertian deskriptif berarti adalah mendeskripsikan atau menjelaskan kembali penelitian tersebut berdasarkan teori yang sudah ada sebelumnya.Pola penelitian deskriptif menggambarkan suatu kejadian melalui gambaran secara sistematis dan faktual. Tipe penelitian deskriptif menjelaskan suatu fenomena dengan mengidentifikasi secara mendalam apa yang terjadi. Dalam penelitian ini, penulis ingin menjelaskan hubungan antara kedua negara dalam rumusan masalah melalui penggunaan konsep dalam menjelaskan suatu fenomena.

 

3.3       Pendekatan Penelitian

            Pendekatan penelitian yang digunakan penulis adalah pendekatan fenomenologi. Fenomenologi adalah imu pengetahuan yang tentang apa yang tampak megenai suatu gejala-gejala atau fenomena yang pernah menjadi pengalaman manusia yang bisa dijadikan tolak ukur untuk mengadakan suatu penelitian kualitatif. Fenomenologi merupakan strategi penelitian di mana di dalamnya peneliti mengidentifikasi hakikat pengalaman manusia tentang suatu fenomena tertentu.Memahami pengalaman-pengalaman hidup manusia menjadikan filsafat fenomenologi sebagai suatu metode penelitian yang prosedur-prosedurnya mengharuskan peneliti untuk mengkaji sejumlah subjek denganterlibat secara langsung dan relatif lama di dalamnya untuk mengembangkan pola-pola dan relasi-relasi makna. Dalam Proses ini, peneliti mengesampingkan terlebih dahulu pengalaman-pengalaman pribadinya agar ia dapat memahami pengalaman-pengalaman partisipan yang ia telitiInvalid source specified..

 

3.4       Fokus Penelitian

            Masalah dalam penelitian kualitatif bertumpu pada suatu fokus.Fokus penelitian merupakan suatu lingkup permulaan yang dijadikan sebagai wilayah pelaksanaan penelitian sehingga peneliti memperoleh gambaran yang jelas dan menyeluruh tentang situasi yang diteliti.Penetapan fokus penelitian sebagai pusat perhatian dimaksudkan sebagai batas yang berguna untuk mencegah terjadinya pembiasan dalam mempersepsikan dan membahas masalah yang sedang diteliti.

            Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti memberi batasan fokus penelitian. Yang pertama, fokus pada materi mengenai ekspor Indonesia dengan Malaysia terutama fokus pada sub sektor industri kelapa sawit karena sektor ini memberikan porsi besar bagi keberlangsungan pertumbuhan industri dan perekonomian indonesia dan Malaysia serta membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas bagi penyerapan tenaga kerja. Yang kedua adalah fokus tahun digunakan untuk lebih memudahkan dalam menjawab konteks kerjasama bilateral, yaitu kurun waktu 2008-2012.Rentang waktu tersebut dipilih karena penulis ingin melihat bagaimana analisis deskriptif kualitatif tentang perbandingan ekspor Indonesia dan Malaysia dadlam komoditi kelapa sawit di lingkungan internasional tahun 2008-2012.

 

3.5       Lokasi Penelitian

            Penelitian ini akan dilakukan melalui studi pustaka yang bahan-bahanya penulis dapat peroleh dari:

1.     Ruang baca Program Studi Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya, Jalan Veteran Malang.

2.     Perpustakaan Universitas Brawijaya, Jalan Veteran Malang.

3.     Perpustakaan Umum Kota Malang, Jalan Ijen 30 A  Malang.

4.     Situs internet, e-journal dan e-book.

5.     Majalah dan koran.

6.     Penyiaran berita televisi.

 

3.6       Teknik Pengumpulan Data

            Teknik pengumpulan data yang digunakan penulis adalah studi literatur (studi pustaka) dengan analisis data sekunder.Data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh orang yang melakukan penelitian dari sumber-sumber yang sudah ada.Data tersebut diambil dari sumber-sumber sekunder seperti buku-buku, dokumen-dokumen, jurnal-jurnal dan skripsi. Serta dilengkapi dengan informasi yang didapat dari internet, majalah ataupun surat kabar. Teknik pengumpulan data diawali dengan pengumpulan data yang sesuai sebanyak mungkin. Kemudian penulis akan menyeleksi dan mengelompokkan data-data yang telah dikumpulkan kedalam beberapa bab pembahasan yang disesuaikan dengan sistematika penulisan untuk selanjutnya dianalisis.

 

3.7       Teknik Analisis Data

            Menurut Bogdan dan Biklen dalam Moleong, analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensistensikannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari dan memutuskan apa yang dapat diceritakan pada orang lain dilain sisi bermanfaat secara praktis.

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan melalui analisis non-statistik dimana data tabel, angka ataupun grafik akan diuraikan kedalam bentuk kalimat dan paragraf. Teknik analisis ini dilakuakan melalui beberapa tahapan yaitu klarifikasi data, seleksi dan analisis atau interpretasi pada data tersebut diuji dengan menggunakan teori atau konsep yang sudah ada yang telah ditentukan sebelumnya.

 

3.8       Sistematika Penulisan

BAB I PENDAHULUAN

Berisi latar belakang penelitian, rumusan amaslah, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian yang akan dilaksanakan dan bermanfaat peneltian tersebut secara praktis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Berisi landasan teoritis serta konsep yang digunakan dalam menganalisis permasalahan dalam penelitian yang akan dilaksanakan guna mendapatkan pemecahan masalah yang diharapkan, yaitu terdiri dari: studi terdahulu, kerangka konseptual yang meliputi definisi dan definisi operasional, level analisis, alur pikir penelitian, serta argumen utama.

BAB III METODE PENELITIAN

Dalam hal ini terutama dibahas mengenai cara atau metode yang digunakan untuk menjawab rumusan masalah serta batasan-batasan permaslahan yang ada sehingga penelitian akan terfokus dan tidak melenceng dari fokus yang ditentukan, yaitu terdiri dari: jenis penelitian, fokus penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisa data, lokasi dan sistematika penulisan yang merupakan alur pemikiran dalam melakukan penelitian.

BAB IV GAMBARAN UMUM

Terdiri dari gambaran umum mengenai kelapa sawit sebagai produk unggulan kedua negara serta faktor-faktor apa saja yang berpengaruh terhadap penawaran dan produksi minyak sawit dalam memenuhi permintaan konsumsi dunia, diantaranya adalah faktor iklim, luas lahan yang tersedia, ketersediaan tenaga kerja, dukungan pemerintah masing-masing negara, gerakan para pemerhati lingkungan, dan pendanaan investasi.

BAB V PEMBAHASAN

Dalam bab ini akan disajikan mengenai analisis yang lebih mendalam mengenai apa saja bentuk-bentuk kerjasama antara Indonesia dan Malaysia di sektor komoditi kelapa sawit ini yang didukung dengan data-data pendukung yang berkaitan dengan masalah yang diteliti, berkaitan dengan tujuan penelitiandan sesuai dengan fokus penelitian.

BAB VI PENUTUP

Penutup merupakan bagian terakhir dari penulisan penelitian ini nantinya yang terdiri dari kesimpulan dan saran, dimana kesimpulan digunakan sebagai jawaban penelitian atas permasalahan yang diteliti sekaligus menguji kebenaran hipotesis yang telah penulis ajukan serta saran bagi peneliti selanjutnya dalam mengkaji obyek yang serupa.

 

 


 



 

Daftar Pustaka



Anonymous. (2007). Gambaran Sekilas Industri Minyak Kelapa Sawit. Jakarta: Sekretaris Jendral Departemen Perindustrian Indonesia.

Bachtiar, A. (2010). Analisis pergerakan. FE UI, pp. 32-58.

Ermawati, T., & Saptia, Y. (2013, November 22). Kinerja Ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia. Buletin Ilmiah Litbang Perdagangan, pp. 129-147.

Hagi, Hadi, S., & Tety, E. (n.d.). Analisis Daya Saing Ekspor Minyak Sawit Indonesia dan Malaysia di Pasar Internasional. Fakultas Pertanian Universitas Riau.

Hasnim, F. H. (2008). Faktor-Faktor Determinan. FE UI, pp. 1-7.

Munadi, E. (2007). Penurunan Pajak dan Dampaknya terhadap Ekspor Minyak Kelapa Sawit Indonesia ke India. Surabaya: Informatika Pertanian Universitas Wijaya Kusuma Surabaya.

Tjahjaprijadi, C. (n.d.). Dampak Kenaikan Harga Minyak Sawit Internasional terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia (Suatu Model Computable General Equilibriun). pp. 1-10.

 


 



[1]Imam. 2015. Pengertian Konsep. Tersedia: http://www.kuliah.info/2015/05/konsep-adalah-apa-itu-konsep-ini.html [Online].  (25 November 2015).
[2]Pratiwi, Ika. 2015. Macam-macam Kerjasama Internasional. Tersedia: http://bangkusekolah.com/2015/06/24/macam-macam-kerjasama-internasional/ [Online]. (25 November 2015).
[3]Cornelius Tjahjapriad. Dampak Kenaikan Harga Minyak Kelapa Sawit Internasionak terhadap Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Hal. 5.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar